ZonaJatim – Program bensin dari kelapa sawit menjadi langkah lanjutan pemerintah setelah resmi menerapkan biodiesel B50 dan menghentikan impor solar. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa pemerintah kini tengah mengembangkan bahan bakar bensin berbasis minyak sawit serta bioetanol yang berasal dari berbagai tanaman lokal sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurut Presiden, riset tersebut saat ini sedang dikerjakan oleh para ilmuwan Indonesia dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dalam negeri. Selain kelapa sawit, bahan baku bioetanol juga dikembangkan dari singkong, jagung, hingga sorgum.
“Profesor-profesor kita sekarang sedang mengembangkan bensin dari kelapa sawit, etanol dari singkong, dari jagung, dari sorgum. Jadi saya harap dalam tiga-empat tahun kedepan kita nanti juga bisa menghasilkan bensin dari tanaman,” kata Presiden Prabowo
Subianto.Pengembangan bensin dari kelapa sawit tersebut diharapkan menjadi tonggak baru dalam mewujudkan kemandirian energi Indonesia. Pemerintah menargetkan teknologi itu sudah dapat dimanfaatkan dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun mendatang sehingga kebutuhan bahan bakar tidak lagi terlalu bergantung pada impor.
Langkah tersebut sekaligus menjadi kelanjutan kebijakan biodiesel B50 yang mulai diterapkan pemerintah pada tahun 2026. Program ini meningkatkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit menjadi 50 persen pada solar, sebagai upaya mengurangi impor energi sekaligus memperbesar pemanfaatan komoditas dalam negeri.
Selain memperkuat ketahanan energi, pengembangan bensin dari kelapa sawit diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang luas. Permintaan bahan baku sawit, singkong, jagung, dan sorgum diperkirakan meningkat sehingga membuka peluang bertambahnya nilai jual hasil pertanian serta memperluas pasar bagi petani di berbagai daerah.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan implementasi program B50 diperkirakan mampu menciptakan nilai tambah industri kelapa sawit hingga sekitar Rp24,68 triliun. Kebijakan tersebut juga diproyeksikan menyerap lebih dari 2,2 juta tenaga kerja serta menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun karena berkurangnya kebutuhan impor bahan bakar fosil.
Di sisi lain, penggunaan bahan bakar nabati juga mendukung target pengurangan emisi gas rumah kaca. Pemerintah memperkirakan implementasi B50 dapat menekan emisi karbon hingga sekitar 46,72 juta ton CO₂ ekuivalen sebagai bagian dari agenda transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Apabila riset bensin dari kelapa sawit dan bioetanol berhasil diwujudkan sesuai target, Indonesia berpeluang memiliki rantai energi yang semakin mandiri. Tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, inovasi tersebut juga dapat meningkatkan daya saing sektor pertanian nasional melalui pemanfaatan komoditas lokal sebagai sumber energi masa depan.












