ZonaJatim.net – Status kepemilikan bangunan milik sendiri di Jawa Timur tahun 2025 menunjukkan disparitas mencolok antara perkotaan dan pedesaan, di mana 10 wilayah dengan persentase terendah semuanya didominasi oleh kota-kota besar dan kabupaten dengan karakteristik tertentu.
Fenomena ini mencerminkan tingginya mobilitas penduduk di wilayah urban, serta meningkatnya ketergantungan terhadap hunian sewa, kontrak, maupun bentuk tempat tinggal lain di luar kepemilikan pribadi.
Berdasarkan data publikasi Provinsi Jawa Timur Dalam Angka 2026 (Tabel 4.3.6), sejumlah daerah mencatatkan angka kepemilikan rumah pribadi yang relatif rendah dibanding wilayah lainnya. Kondisi ini tidak lepas dari faktor ekonomi, urbanisasi, hingga keberadaan pusat industri, pendidikan, dan pemerintahan yang mendorong kebutuhan hunian sementara.
Daftar 10 Wilayah dengan Status Kepemilikan Bangunan Milik Sendiri Terendah
Berikut ini adalah daftar 10 kabupaten/kota dengan status kepemilikan bangunan milik sendiri terendah di Jawa Timur tahun 2025, yang menunjukkan tingginya proporsi rumah tangga yang tinggal di hunian non-milik pribadi.
1. Kota Surabaya — 62,11 persen
Kota Surabaya menempati posisi terendah dengan hanya 62,11 persen rumah tangga yang menempati bangunan milik sendiri. Artinya, sekitar 37,89 persen warga tinggal di rumah kontrak, sewa, atau kategori lainnya. Sebagai pusat bisnis dan jasa terbesar di kawasan timur Indonesia, Surabaya menjadi magnet bagi para pendatang. Tingginya kebutuhan hunian sementara seperti apartemen, kos, dan kontrakan menjadi faktor utama rendahnya kepemilikan rumah pribadi. Selain itu, banyaknya rumah dinas milik instansi pemerintah juga berkontribusi pada kategori “lainnya”.
2. Kota Madiun — 70,56 persen
Kota Madiun berada di posisi kedua dengan angka 70,56 persen. Menariknya, kota ini memiliki persentase kategori “lainnya” yang mencapai 21,98 persen, tertinggi di Jawa Timur. Hal ini menunjukkan dominasi hunian seperti rumah dinas, terutama karena keberadaan institusi pemerintahan dan fasilitas militer. Sementara itu, persentase kontrak atau sewa relatif lebih kecil.
3. Kota Kediri — 77,51 persen
Kota Kediri mencatatkan angka kepemilikan rumah pribadi sebesar 77,51 persen. Sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan, kota ini menarik banyak tenaga kerja dari luar daerah. Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan hunian sewa, sementara kategori “lainnya” juga cukup tinggi akibat keberadaan fasilitas hunian non-pribadi.
4. Kota Malang — 77,62 persen
Kota Malang berada tepat di bawah Kediri dengan 77,62 persen. Dikenal sebagai kota pendidikan, Malang menjadi tujuan ribuan mahasiswa setiap tahun. Kehadiran perguruan tinggi besar seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, dan UIN Maulana Malik Ibrahim membuat permintaan hunian sementara seperti kos dan kontrakan meningkat signifikan.
5. Kota Blitar — 80,90 persen
Kota Blitar mencatatkan kepemilikan rumah pribadi sebesar 80,90 persen. Sebagai kota wisata sejarah yang identik dengan Soekarno, Blitar memiliki banyak penginapan dan fasilitas akomodasi. Hal ini turut meningkatkan kategori “lainnya” dalam data kepemilikan bangunan.
6. Kota Pasuruan — 85,09 persen
Kota Pasuruan mencatat angka 85,09 persen. Keberadaan kawasan industri menjadi daya tarik tenaga kerja dari luar daerah, yang umumnya memilih tinggal di rumah kontrakan atau kos. Meski demikian, tingkat kepemilikan rumah pribadi masih tergolong cukup tinggi dibanding kota besar lainnya.
7. Kota Probolinggo — 86,49 persen
Kota Probolinggo memiliki angka 86,49 persen. Sebagai pintu masuk menuju kawasan wisata Gunung Bromo, kota ini memiliki banyak fasilitas akomodasi seperti hotel dan villa, yang masuk dalam kategori “lainnya”.
8. Kabupaten Sidoarjo — 89,16 persen
Kabupaten Sidoarjo mencatat angka 89,16 persen. Sebagai salah satu pusat industri terbesar di Jawa Timur, wilayah ini dipenuhi kawasan pabrik yang menyerap tenaga kerja dari berbagai daerah. Hal ini mendorong tingginya permintaan hunian sewa di sekitar kawasan industri.
9. Kabupaten Jombang — 89,62 persen
Kabupaten Jombang berada di posisi berikutnya dengan 89,62 persen. Dikenal sebagai kota santri, Jombang memiliki banyak pondok pesantren besar. Hunian berupa asrama pesantren yang ditempati santri masuk dalam kategori “lainnya”, sehingga memengaruhi persentase kepemilikan rumah pribadi.
10. Kota Batu — 90,54 persen
Kota Batu mencatatkan angka 90,54 persen. Meski dikenal sebagai kota wisata dengan banyak hotel dan villa, mayoritas penduduk lokal tetap memiliki rumah pribadi. Hunian sewa lebih banyak digunakan oleh pekerja sektor pariwisata.
Data status kepemilikan bangunan milik sendiri di Jawa Timur tahun 2025 memperlihatkan dominasi wilayah perkotaan dalam daftar terendah. Dari 10 wilayah tersebut, sebagian besar merupakan kota dengan aktivitas ekonomi tinggi, baik di sektor industri, pendidikan, maupun pariwisata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa urbanisasi dan mobilitas penduduk mendorong perubahan pola hunian dari kepemilikan permanen menuju hunian sewa yang lebih fleksibel.
Kota Surabaya dan Kota Madiun menjadi contoh wilayah dengan tantangan terbesar dalam penyediaan hunian terjangkau, terutama bagi pendatang dan pekerja sektor informal maupun formal.












