ZonaJatim – Kisah inspiratif datang dari lulusan terbaik ITN Malang, Muhamad Cahyo Samudro. Pria asal Sidoarjo ini berhasil menorehkan prestasi gemilang setelah menyelesaikan studi S-1 Teknik Elektro di Institut Teknologi Nasional Malang hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,79. Menariknya, sebelum kembali kuliah, ia sempat bekerja sebagai teknisi listrik di Jakarta.
Keputusan Cahyo meninggalkan pekerjaannya bukan tanpa alasan. Ia mengikuti amanah orang tua sekaligus dorongan dari perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya untuk memperdalam bidang energi terbarukan. Dukungan tersebut menjadi titik balik yang membawanya ke dunia akademik.
Memilih ITN Malang juga bukan kebetulan. Kampus ini dikenal memiliki fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala kampus terbesar di Pulau Jawa. Selama kuliah, Cahyo aktif sebagai asisten di Laboratorium Energi Baru Terbarukan (EBT) serta terlibat dalam berbagai riset dosen.

Sebagai lulusan terbaik ITN Malang, ia juga menuntaskan skripsi yang tergolong inovatif. Cahyo merancang sistem pembangkit listrik untuk wilayah terpencil di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, dengan mengombinasikan PLTS off-grid dan teknologi pumped storage.
Konsep tersebut memanfaatkan energi matahari untuk memompa air ke waduk di dataran tinggi pada siang hari. Selanjutnya, air dialirkan kembali untuk menggerakkan turbin saat malam, menyerupai sistem PLTA.
“Jadi, penggunaan baterai tidak lagi diperlukan, sehingga bisa menghemat biaya pembelian maupun biaya perawatan yang relatif mahal,” jelas Cahyo yang dijadwalkan mengikuti Wisuda ke-75 Periode I pada 25 April 2026 mendatang.
Meski sempat menghadapi kendala perubahan basis data yang memaksanya menghitung ulang desain, hasil perencanaan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang ia susun dinyatakan layak. Bahkan, rekomendasi tersebut telah diajukan kepada pemerintah daerah Kabupaten Mahakam Ulu.
Pengalaman menggunakan berbagai perangkat lunak industri seperti ETAP, AutoCAD, dan SketchUp 3D turut membentuk kompetensi Cahyo sebelum lulus. Tak heran, usai yudisium, ia langsung diterima bekerja di PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (FID Pasuruan) sebagai Utility Generator and Boiler Operation.
“Buat saya, output terbaik seorang sarjana itu ya langsung mempraktekkan teorinya,” ujar alumnus SMKN 1 Singosari Malang tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia industri memiliki tantangan yang jauh berbeda dibandingkan bangku kuliah. Ketelitian menjadi hal utama, bahkan hingga angka di belakang koma sekalipun.
Sebagai lulusan terbaik ITN Malang, Cahyo berpesan agar mahasiswa tidak hanya berfokus mengejar nilai akademik. Ia menilai sertifikasi keahlian serta mental pantang menyerah jauh lebih menentukan kesuksesan di dunia kerja.
Mengutip pesan dosen pembimbingnya, ia menekankan pentingnya kemampuan manajerial bagi seorang teknisi, selain penguasaan teknis.
“Jangan pilih-pilih pekerjaan, karena kesempatan nggak datang dua kali. Di dunia teknik, nggak ada kerjaan yang santai, itu cuma ilusi. Semua butuh kerja keras dan persistensi (sikap keras kepala yang positif),” tutupnya.










