MALANG, ZonaJatim — Suasana khidmat menyelimuti pelataran Candi Kidal, Tumpang, pada Minggu (26/4). Puluhan perempuan yang tergabung dalam Komunitas Kain Kebaya Indonesia (KKI) Kabupaten Malang berkumpul bukan sekadar untuk seremoni, melainkan untuk menggali kembali akar perjuangan perempuan melalui peninggalan sejarah bangsa.
Peringatan Hari Kartini di Candi Kidal tahun ini dikemas apik dengan memadukan semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini dan nilai filosofis relief Garudeya.
Kisah legendaris tentang perjuangan Garuda membebaskan sang ibu, Dewi Winata, dari belenggu perbudakan menjadi benang merah acara ini—sebuah simbol penghormatan tertinggi terhadap martabat seorang ibu.
Sekitar 50 anggota KKI tampak antusias menyimak narasi sejarah, menyaksikan keelokan tari tradisi dari Sanggar Setyotomo Glagahdowo, hingga mempraktikkan seni kriya janur. Acara ini semakin berbobot dengan kehadiran para tokoh budaya seperti Ki Demang, Ki Suroso, dan sejumlah praktisi seni lainnya.
Narasumber utama, Rakai Hino Galeswangi, membedah kaitan erat antara Candi Kidal dan posisi perempuan. Menurutnya, relief Garudeya adalah bukti autentik bahwa peradaban Hindu-Buddha sudah menempatkan perempuan di posisi yang mulia.
“Dalam kisah Garudeya, terlihat bagaimana seorang anak membela dan mengangkat derajat ibunya. Ini menunjukkan bahwa sejak masa Hindu-Buddha, perempuan memiliki posisi yang dimuliakan dan setara. Bahkan dalam tradisi Islam, ibu disebut tiga kali untuk diutamakan. Artinya, perempuan adalah sumber inspirasi dan pusat nilai kehidupan,” jelas Rakai.
Senada dengan hal tersebut, Ketua KKI Kabupaten Malang, Endah Purwatiningsih, mengungkapkan bahwa pemilihan Candi Kidal bertujuan untuk memberikan perspektif baru bagi para anggotanya mengenai sejarah perjuangan perempuan.
“Kami ingin para perempuan, khususnya anggota KKI, memahami bahwa nilai perjuangan perempuan tidak hanya hadir dalam sejarah modern, tetapi juga telah tertanam kuat dalam warisan budaya leluhur,” ungkap Endah.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga etika dan budi pekerti sebagai wujud pelestarian budaya dalam lingkup keluarga.
Manifestasi “Tujuh Bidadari” Melalui Anyaman Janur
Sisi edukatif acara berlanjut di bawah pohon rindang pelataran candi. Di sana, Mbah Karjo (Syamsul Bahri) dan Bu Suli memandu para ibu untuk belajar seni menganyam janur.

Mbah Karjo mengibaratkan keterampilan ini sebagai manifestasi kemampuan tujuh bidadari dari Arcapada—mulai dari Dewi Suprobo hingga Gagar Mayang—yang turun ke bumi.
Dalam praktik ini, para peserta diajak merangkai sembilan jenis bentuk janur, seperti manuk lanang, manuk wedok, hingga kembang ceplok. Setiap anyaman dianggap sebagai simbol keterampilan praktis yang sarat makna untuk kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ditutup dengan penuh sukacita lewat pementasan tari Gambyong “Mari Kangen”. Dipandu oleh Endang dari Sanggar Topeng Setyotomo, tarian ini menjadi simbol kehangatan sekaligus komitmen kolektif untuk terus menghidupkan warisan leluhur.
Melalui peringatan ini, KKI Kabupaten Malang menegaskan bahwa Hari Kartini adalah momentum untuk membaca ulang sejarah dan memosisikan perempuan sebagai pilar utama peradaban.










