Blitar, ZonaJatim – Ruwatan Desa Sidodadi kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk melestarikan budaya sekaligus mempererat kerukunan antarwarga. Kegiatan yang digelar di Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini menghadirkan doa lintas agama sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur serta ungkapan rasa syukur atas kehidupan, keberkahan, dan hasil bumi yang telah dinikmati masyarakat.
Tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Sidodadi tersebut berlangsung dengan penuh khidmat dan diikuti berbagai elemen masyarakat. Selain menjadi sarana melestarikan budaya lokal, kegiatan ini juga memperkuat semangat gotong royong serta kebersamaan di tengah keberagaman yang hidup harmonis di desa tersebut.
Ruwatan Desa Sidodadi Jadi Simbol Pelestarian Budaya
Kegiatan ruwatan Desa Sidodadi dihadiri oleh Kepala Desa Sidodadi bersama jajaran Muspida dan Muspika, kader PKK, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), kader Posyandu, Ketua RT dan RW se-Desa Sidodadi, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), pelaku UMKM, hingga seluruh lapisan masyarakat.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi warisan leluhur sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Kebersamaan yang terjalin menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu menjadi perekat persatuan di tengah keberagaman.
Doa Lintas Agama Wujud Toleransi dan Kebersamaan
Salah satu rangkaian utama dalam kegiatan ini adalah doa bersama yang dipimpin oleh tokoh-tokoh dari berbagai agama. Doa lintas agama tersebut menjadi simbol nyata bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan dalam suasana damai dan saling menghormati.

Melalui doa bersama, masyarakat memohon keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, serta keberkahan bagi seluruh warga Desa Sidodadi. Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa membangun dan mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus.
Tumpeng Hasil Bumi Tampilkan Potensi Desa
Keunikan ruwatan Desa Sidodadi juga terlihat dari penyajian tumpeng yang seluruh bahan utamanya berasal dari hasil pertanian dan peternakan masyarakat setempat.
Beragam sayuran, padi, buah-buahan, hingga hasil peternakan disusun menjadi tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan. Sajian tersebut tidak hanya menjadi bagian dari prosesi adat, tetapi juga mencerminkan besarnya potensi sektor pertanian yang dimiliki Desa Sidodadi.
Keberadaan tumpeng hasil bumi menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja keras para petani, peternak, dan seluruh masyarakat yang selama ini berperan dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mengembangkan potensi desa.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan Masyarakat Desa Sidodadi
Pelaksanaan kegiatan berlangsung berkat semangat gotong royong seluruh warga. Mulai dari persiapan lokasi, penyusunan tumpeng, hingga jalannya acara dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa nilai kebersamaan masih tumbuh kuat di Desa Sidodadi. Tradisi ruwatan bukan hanya menjadi acara seremonial tahunan, tetapi juga menjadi ruang mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap desa.
Ruwatan Desa Sidodadi Diharapkan Terus Dilestarikan
Melalui pelaksanaan ruwatan Desa Sidodadi, masyarakat berharap tradisi luhur ini dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Selain menjaga warisan budaya, kegiatan ini juga menjadi media untuk menanamkan nilai gotong royong, toleransi, rasa syukur, dan penghormatan kepada para leluhur.
Semangat kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi fondasi bagi pembangunan Desa Sidodadi yang semakin harmonis, berbudaya, dan sejahtera. Dengan menjaga tradisi sekaligus memperkuat persatuan, Desa Sidodadi terus menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan penuh rasa syukur.












