Blitar, ZonaJatim – Napak Tilas Desa Sidodadi menjadi salah satu kegiatan budaya yang diikuti mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) dalam program UM-BBM (Belajar Bersama Masyarakat) di Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 27 Juni 2026, pukul 19.00 WIB tersebut memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengenal sejarah, memahami budaya Jawa, sekaligus mempererat kebersamaan dengan masyarakat setempat.
Dengan mengenakan atribut resmi Universitas Negeri Malang, para mahasiswa berjalan bersama warga mengikuti rangkaian napak tilas yang telah menjadi tradisi tahunan di Desa Sidodadi. Kehadiran mahasiswa tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran langsung mengenai nilai-nilai sejarah, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami bagaimana tradisi lokal tetap dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari implementasi program UM-BBM yang tidak hanya berfokus pada pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga mendorong mahasiswa belajar langsung dari kehidupan masyarakat desa.
Napak Tilas Desa Sidodadi Mengajarkan Nilai Sejarah dan Kebangsaan
Napak tilas merupakan kegiatan menyusuri lokasi atau jalur yang memiliki nilai sejarah sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu. Tradisi ini telah lama dikenal dalam budaya Jawa sebagai media untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa penting di masa lampau.
Secara etimologis, istilah “napak” berarti melangkah atau menginjak, sedangkan “tilas” berarti jejak atau bekas. Dari makna tersebut, napak tilas dimaknai sebagai upaya menelusuri jejak sejarah agar generasi saat ini mampu memahami perjuangan yang pernah dilakukan oleh para tokoh maupun masyarakat terdahulu.
Bagi mahasiswa Universitas Negeri Malang, mengikuti kegiatan ini menjadi pengalaman yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas. Interaksi langsung dengan masyarakat membuat pemahaman terhadap sejarah lokal menjadi lebih nyata sekaligus memperkaya wawasan mengenai keberagaman budaya Indonesia.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menanamkan rasa cinta tanah air, meningkatkan kepedulian terhadap warisan budaya, serta memperkuat identitas kebangsaan di kalangan generasi muda.
Rangkaian Kegiatan Napak Tilas Berlangsung Khidmat
Kegiatan diawali dengan pengarahan mengenai tujuan pelaksanaan napak tilas serta rute yang akan dilalui peserta. Selanjutnya, mahasiswa bersama warga Desa Sidodadi menyusuri jalur yang telah ditentukan sambil mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang sarat makna sejarah.
Dalam setiap titik perjalanan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah lokasi yang dilalui beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Momen tersebut menjadi sarana edukasi yang efektif karena peserta dapat memahami langsung latar belakang sejarah dari tempat-tempat yang dikunjungi.

Selain berjalan bersama, kegiatan juga diisi dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Suasana yang penuh kekhidmatan semakin memperkuat makna napak tilas sebagai tradisi yang tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi media refleksi bagi generasi masa kini.
Mahasiswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi dengan warga mengenai sejarah Desa Sidodadi, tradisi yang masih dilestarikan, hingga nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi Budaya yang Menguatkan Hubungan Mahasiswa dan Masyarakat
Pelaksanaan UM BBM Desa Sidodadi menjadi wadah bagi mahasiswa untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat. Melalui keterlibatan dalam kegiatan budaya seperti napak tilas, mahasiswa dapat memahami karakter masyarakat desa sekaligus belajar mengenai pentingnya menjaga tradisi lokal.
Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini juga mendapat sambutan positif dari warga. Kebersamaan yang terjalin selama kegiatan menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menjadi langkah nyata dalam melestarikan budaya sekaligus memperkuat pendidikan karakter.
Program UM-BBM sendiri memang dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung di tengah masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan dalam berbagai kegiatan adat dan budaya menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan kehidupan sosial.
Napak Tilas Menjadi Sarana Pendidikan Karakter Generasi Muda
Selain memiliki nilai sejarah, napak tilas juga berperan sebagai media pembentukan karakter. Melalui perjalanan yang dilakukan bersama, peserta diajak untuk meneladani semangat perjuangan, kerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membangun sikap kepemimpinan sekaligus meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan masyarakat. Nilai-nilai yang diperoleh selama mengikuti kegiatan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika memasuki dunia kerja.
Tradisi seperti Napak Tilas Desa Sidodadi juga menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, melainkan dipahami sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Komitmen Melestarikan Budaya Lokal Melalui Napak Tilas Desa Sidodadi
Kegiatan yang diikuti mahasiswa Universitas Negeri Malang ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan dunia pendidikan. Melalui program UM-BBM, mahasiswa tidak hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga belajar menghargai sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur yang masih hidup di tengah masyarakat.
Keikutsertaan mahasiswa dalam Napak Tilas Desa Sidodadi diharapkan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga warisan budaya bangsa. Dengan mengenal sejarah secara langsung, mahasiswa dapat mengambil pelajaran berharga dari perjuangan para pendahulu sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, tradisi budaya seperti napak tilas dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia. Kegiatan ini sekaligus membuktikan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga hadir melalui pengalaman nyata bersama masyarakat yang kaya akan sejarah dan budaya.












