Bojonegoro, ZonaJatim – Budidaya maggot menjadi salah satu inovasi yang dikenalkan Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) Kelompok 44 melalui program Kenep Biofeed di Desa Kenep, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Program tersebut menyasar penerima Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) dengan mengangkat dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan limbah organik rumah tangga dan kebutuhan pakan tambahan bagi ayam.
Kegiatan yang digelar di Balai Desa Kenep itu tidak sekadar menghadirkan penyuluhan. Para peserta juga diajak melihat langsung proses budidaya melalui demplot sekaligus mempraktikkan tahapan dasar pemeliharaan maggot Black Soldier Fly (BSF). Pendekatan praktik tersebut dipilih agar peserta tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memiliki gambaran mengenai penerapannya di lingkungan rumah.
Program Kenep Biofeed berangkat dari kondisi peternak yang masih menghadapi biaya pakan ayam. Pada saat yang sama, sisa bahan pangan dari aktivitas rumah tangga masih banyak yang berpotensi dimanfaatkan. Melalui budidaya maggot BSF, MMD UB mengenalkan alternatif pengelolaan limbah organik yang dapat dikembangkan sekaligus menjadi sumber pakan tambahan untuk ternak ayam.
Maggot BSF dalam program tersebut ditempatkan sebagai pakan tambahan dan bukan sebagai pengganti seluruh kebutuhan pakan ayam. Penggunaan secara bertahap dan terukur menjadi bagian penting dari edukasi kepada penerima manfaat agar penerapan teknologi sederhana tersebut tetap dilakukan secara tepat.
Dalam kegiatan penyuluhan, mahasiswa menjelaskan siklus hidup Black Soldier Fly serta tahapan dasar budidaya maggot. Materi yang diberikan mencakup persiapan media, pemilahan bahan organik, pemeliharaan larva, pengaturan kelembapan, pengendalian bau dan hama, hingga proses pemanenan.
Sejumlah bahan organik rumah tangga seperti sisa sayuran, kulit buah, nasi, ampas tahu, ampas kelapa, serta bahan pangan lunak dapat dimanfaatkan setelah melalui proses pemilahan. Langkah tersebut menjadi bagian penting karena tidak semua limbah rumah tangga dapat digunakan sebagai media budidaya.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai bahan yang harus dipisahkan dari media. Plastik, kaca, logam, benda tajam, bahan yang terpapar zat kimia, serta limbah dengan kandungan garam atau minyak yang terlalu tinggi tidak dimasukkan ke dalam media budidaya. Pemilahan dilakukan agar proses pengolahan limbah organik berlangsung lebih aman dan terkontrol.
Bagi penerima manfaat, metode praktik melalui demplot memberikan pengalaman yang lebih mudah dipahami. Bu Muzayyanah, salah satu penerima Program GAYATRI, mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai pemanfaatan limbah dapur melalui kegiatan tersebut.
Menurutnya, praktik secara langsung membuat proses budidaya maggot untuk pakan ayam lebih mudah dibayangkan. Ia juga melihat adanya peluang untuk mencoba metode tersebut dalam skala rumah tangga.
Selain mendapat dukungan dari peserta, kegiatan Kenep Biofeed juga difasilitasi Pemerintah Desa Kenep melalui dukungan administrasi, tempat pelaksanaan kegiatan, dan sarana penyuluhan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung program yang berkaitan dengan kebutuhan peternak sekaligus pengelolaan lingkungan.
Setelah kegiatan penyuluhan dan praktik selesai, program tidak berhenti pada pelaksanaan satu hari. Demplot yang telah dibuat menjadi bagian dari proses monitoring. Mahasiswa akan mengamati kondisi larva, media, tingkat kelembapan, kebersihan, bau, keberadaan hama, hingga pemanfaatan bahan organik yang digunakan.
Hasil budidaya maggot BSF tersebut nantinya akan diamati sebelum dimanfaatkan sebagai pakan tambahan ayam dalam skala terbatas. Monitoring dilakukan untuk melihat perkembangan budidaya sekaligus memastikan masyarakat memahami proses pemeliharaan secara konsisten.
Hammam Muafa menjelaskan bahwa keberhasilan Kenep Biofeed tidak semata-mata dilihat dari banyaknya maggot yang dihasilkan. Lebih dari itu, program diarahkan untuk membangun kemampuan masyarakat dalam mengelola limbah, melakukan budidaya, mencatat perkembangan, dan merawat demplot secara berkelanjutan.
“Kenep Biofeed kami rancang sebagai langkah awal untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus, yaitu pengelolaan limbah organik dan kebutuhan pakan tambahan ayam. Penggunaan maggot tetap harus dilakukan secara bertahap, terukur, dan tidak menggantikan seluruh pakan utama,” jelas Hammam.
Program tersebut sekaligus memperkenalkan pemanfaatan limbah dapur untuk budidaya maggot sebagai bagian dari upaya mengurangi bahan organik yang berpotensi terbuang. Jika dikelola dengan baik, limbah rumah tangga yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diarahkan menjadi bagian dari proses budidaya yang memiliki manfaat bagi peternak.
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, Kenep Biofeed juga diarahkan untuk mendukung penerapan SDG 2 atau Tanpa Kelaparan melalui penguatan praktik peternakan berkelanjutan. Program ini juga berkaitan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah organik.
Bagi masyarakat Desa Kenep, pengenalan budidaya maggot di Bojonegoro tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat. Pengetahuan yang diperoleh peserta dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan dan kondisi di lapangan.
Kenep Biofeed merupakan bagian dari pelaksanaan MMD Universitas Brawijaya 2026 yang berkolaborasi dengan Program Hibah Strategis DRPM Universitas Brawijaya Tahun 2026. Program tersebut berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Onni Meirezaldi, S.Sos., M.M.
Ke depan, keberlanjutan program diharapkan mendapat dukungan dari penerima manfaat, pengelola demplot, serta Pemerintah Desa Kenep. Dengan pendampingan yang konsisten, budidaya maggot berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk menghubungkan pengelolaan limbah organik rumah tangga dengan kebutuhan pakan tambahan bagi peternak ayam di Desa Kenep.











