Malang, ZonaJatim– Workshop Unikama tentang Diferensiasi Misi dan Integrasi Kearifan Lokal dalam Tri Dharma menjadi momentum strategis bagi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang untuk memperkuat identitas sebagai perguruan tinggi yang inovatif dan kompetitif. Kegiatan tersebut diikuti jajaran pimpinan rektorat, dekan, ketua program studi, direktur, kepala pusat, hingga tim akreditasi Unikama.
Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., menilai workshop tersebut memiliki peran penting dalam menentukan arah pengembangan kampus. Menurutnya, kegiatan itu tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga menjadi tahap awal untuk mempertegas identitas dan strategi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang dalam menghadapi dinamika persaingan antarperguruan tinggi.
“Workshop ini sangat penting karena menjadi titik tolak bagi Unikama untuk menegaskan jati diri dan merumuskan langkah strategis dalam menghadapi persaingan perguruan tinggi. Kita ingin memastikan bahwa inovasi dan daya saing kita berakar pada kearifan lokal, sehingga lulusan Unikama tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga berkarakter dan mampu berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si.
Ia mengatakan, kearifan lokal perlu ditempatkan sebagai salah satu karakter utama dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Integrasi tersebut diharapkan mampu menjadi pembeda Unikama sekaligus memperkuat daya saing institusi.
“Melalui workshop ini, kita bangun komitmen bersama untuk menjadikan Unikama sebagai perguruan tinggi yang inovatif, kompetitif, dan berlandaskan kearifan lokal,” tegasnya.
Dalam Workshop Diferensiasi Misi Unikama, peserta juga membahas sejumlah aspek yang menjadi karakter pembeda kampus. Identitas “Menjadi perguruan tinggi yang inovatif dan kompetitif berbasis kearifan lokal” menjadi salah satu landasan utama dalam pembahasan tersebut.
Konsep inovatif dimaknai sebagai kemampuan Unikama untuk terus beradaptasi dan melakukan pembaruan. Sementara itu, kompetitif berkaitan dengan orientasi terhadap mutu, keunggulan, nilai tambah, serta daya saing. Adapun kearifan lokal ditempatkan sebagai landasan identitas dan kekhasan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Wakil Rektor 1 Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, Dr. Choirul Huda, M.Si., menjelaskan bahwa hasil workshop juga mengarah pada penguatan kolaborasi strategis di lingkungan kampus. Menurutnya, visi tersebut perlu diterjemahkan ke dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
“Menjadi perguruan tinggi yang inovatif dan kompetitif berbasis kearifan lokal. Inovatif menegaskan kemampuan Unikama untuk beradaptasi dan melakukan pembaruan. Kompetitif menunjukkan orientasi pada mutu, keunggulan, nilai tambah, dan daya saing. Kearifan lokal menjadi landasan identitas, kekhasan, dan diferensiasi kampus,” ujar Dr. Choirul Huda.
Ia menambahkan, implementasi visi tersebut harus terlihat dalam kurikulum, penelitian, serta Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Unikama. Dengan demikian, diferensiasi yang dirumuskan tidak hanya menjadi identitas institusi, tetapi juga diterapkan dalam kegiatan akademik dan kemasyarakatan.
Salah satu pembahasan penting dalam workshop adalah strategi memasukkan kearifan lokal ke dalam kurikulum. Peserta mendiskusikan sejauh mana unsur kearifan lokal perlu diterapkan pada mata kuliah yang ada di Unikama.
Pembahasan tersebut mengarah pada pendekatan yang menempatkan kearifan lokal sebagai nilai dan konteks dalam proses pembelajaran. Artinya, kearifan lokal tidak harus selalu muncul dalam bentuk materi khusus, tetapi dapat menjadi perspektif yang digunakan dalam berbagai disiplin ilmu.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membentuk mahasiswa Unikama yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memahami lingkungan sosial dan kekayaan budaya di sekitarnya. Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membentuk Insan Kanjuruhan yang inovatif dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Dr. Choirul Huda juga menjelaskan sejumlah tahapan yang diperlukan agar integrasi kearifan lokal dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat berjalan secara sistematis. Tahapan tersebut mencakup penetapan, pengembangan, penguatan kapasitas dosen, implementasi, hingga evaluasi.
Evaluasi nantinya mencakup proses pembelajaran sekaligus dampak dari penerapan program. Tahapan tersebut dinilai penting agar visi Unikama sebagai perguruan tinggi inovatif dan kompetitif berbasis kearifan lokal dapat diwujudkan melalui program yang terukur.
Selain bidang pendidikan, workshop juga membahas peran penelitian dan PkM dalam mendukung diferensiasi Unikama. Penelitian diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang dapat memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di masyarakat.
Sementara itu, Pengabdian kepada Masyarakat menjadi sarana untuk menerapkan hasil pengetahuan, penelitian, dan inovasi secara langsung. Integrasi kearifan lokal diharapkan dapat membuat kegiatan penelitian dan PkM Unikama semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui penguatan ketiga bidang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang berupaya membangun identitas institusi yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada inovasi, daya saing, dan kontribusi terhadap masyarakat.
Pada akhirnya, Workshop Diferensiasi Misi Unikama dan Integrasi Kearifan Lokal dalam Tri Dharma menempatkan konsep Insan Kanjuruhan sebagai bagian penting dari arah pengembangan kampus. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat diharapkan menjadi sarana untuk membentuk lulusan yang berkarakter, inovatif, kompetitif, sekaligus tetap memiliki keterikatan dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Dengan rumusan tersebut, Unikama berupaya memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi yang memiliki identitas dan karakter pembeda. Integrasi kearifan lokal dalam Tri Dharma menjadi salah satu langkah yang disiapkan untuk mendukung pengembangan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang secara berkelanjutan.










