Penulis: Nadine Puteri Safira
Program Studi: Pendidikan Teknologi Informasi, FT Universitas Negeri Surabaya
SURABAYA, ZonaJatim – Aktivitas transaksi di lingkungan kampus kini semakin mengikuti perkembangan teknologi digital. Hal tersebut terlihat di kawasan Food Court Baseball Kampus 1 Universitas Negeri Surabaya Ketintang yang mulai mengutamakan penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran utama bagi mahasiswa dan pengunjung. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya kampus dalam mendorong terciptanya lingkungan cashless campus yang lebih modern dan efisien.
Penerapan sistem pembayaran QRIS di kawasan Food Court Baseball UNESA ini mulai diberlakukan secara lebih intensif sejak awal April 2026. Melalui penerapan sistem pembayaran digital tersebut, mahasiswa kini lebih diarahkan untuk melakukan transaksi menggunakan mobile banking maupun dompet digital dibandingkan pembayaran tunai.
Hampir seluruh tenant di kawasan Food Court Baseball UNESA telah menyediakan kode QRIS untuk mempermudah proses pembayaran makanan dan minuman.
Salah satu mahasiswa UNESA yang mendukung kebijakan tersebut mengaku bahwa penggunaan QRIS sangat membantu aktivitas transaksi sehari-hari di kawasan food court. Menurutnya, pembayaran digital membuat proses pembelian makanan menjadi lebih praktis, terutama ketika kondisi kantin sedang ramai pengunjung.
“Menurut aku sistem pembayaran menggunakan QRIS di FC Baseball UNESA cukup membantu banget karena lebih praktis dan cepat. Pembayaran juga terasa lebih aman dan efisien karena tidak perlu membawa uang tunai, apalagi kalau rame jadi lebih cepat jika pembayaran menggunakan QRIS ini,” ujarnya.

Mahasiswa lain juga menyampaikan pendapat serupa terkait manfaat penggunaan QRIS dalam aktivitas jual beli di lingkungan kampus. Ia menilai pembayaran digital dapat meminimalisasi berbagai kendala yang sering terjadi saat transaksi tunai.
“Menurutku pribadi, adanya QRIS ini sangat memudahkan transaksi. Jadi tidak perlu kebingungan jika tidak ada kembalian atau uangnya kurang. Selain itu, QRIS juga meminimalisasi kejadian yang tidak diinginkan seperti kehilangan dompet atau terjadi perampokan, karena dengan QRIS kita tidak perlu membawa dompet,” ungkapnya.
Di sisi lain, penerapan pembayaran nontunai sebagai metode utama juga menimbulkan tanggapan berbeda dari sebagian mahasiswa. Beberapa di antaranya merasa pembayaran tunai seharusnya tetap dapat digunakan sebagai alternatif dalam kondisi tertentu.
Salah satu mahasiswa mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut terkadang menyulitkan mahasiswa yang lupa membawa telepon genggam, belum melakukan top up saldo e-money, ataupun mengalami kendala jaringan internet saat melakukan pembayaran.
“Menurut saya pribadi, seharusnya pihak kampus tidak sepenuhnya melarang pembayaran tunai karena uang tunai masih dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia. Untungnya dari beberapa ibu kantin masih ada yang mau menerima uang tunai di saat kami para pembeli mungkin lupa membawa HP, lupa top up e-money, atau bahkan tidak memiliki kuota,” tuturnya.
Meski menuai pro dan kontra, penggunaan QRIS di Food Court Baseball menjadi salah satu bentuk adaptasi kampus terhadap perkembangan sistem pembayaran digital. Kebijakan ini juga menunjukkan upaya UNESA dalam menciptakan lingkungan transaksi yang lebih praktis, cepat, dan terintegrasi dengan teknologi.
Ke depannya, penerapan sistem cashless di lingkungan kampus diharapkan dapat terus berkembang dengan tetap mempertimbangkan kenyamanan seluruh mahasiswa. Dengan demikian, transformasi digital di lingkungan UNESA tidak hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga mampu memberikan pengalaman transaksi yang lebih efektif bagi sivitas akademika.










