Malang, ZonaJatim – Sekolah ramah lingkungan menjadi salah satu fokus yang terus didorong Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) Kelompok 9 melalui Program SEJUTA (Sekolah Juara Tabungan Sampah). Program tersebut resmi diluncurkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda, Desa Bakalan, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Rabu (15/7/2026), sebagai upaya menanamkan budaya peduli lingkungan sejak usia dini.
Program SEJUTA merupakan inovasi yang dirancang untuk membangun kebiasaan memilah sampah berdasarkan jenisnya di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap para siswa tidak hanya memahami pentingnya menjaga kebersihan sekolah, tetapi juga mampu menerapkan kebiasaan tersebut di lingkungan rumah dan masyarakat.
Puluhan siswa MI Nurul Huda tampak antusias mengikuti rangkaian sosialisasi yang dikemas secara interaktif. Mereka diajak mengenal berbagai jenis sampah sekaligus belajar membuang sampah pada tempat yang sesuai melalui permainan edukatif yang menyenangkan.
Program SEJUTA Dukung Terwujudnya Sekolah Ramah Lingkungan
Ketua MMD UB Kelompok 9, M. Dzakil Fikri, mahasiswa Program Studi Matematika Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM), menjelaskan bahwa MI Nurul Huda dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena sekolah menjadi tempat yang efektif untuk membangun karakter peduli lingkungan sejak dini.

Menurutnya, perubahan perilaku akan lebih mudah dibentuk ketika dimulai dari anak-anak. Kebiasaan memilah sampah yang diterapkan di sekolah diharapkan dapat terbawa hingga ke rumah sehingga memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat Desa Bakalan.
“Kami melihat bank sampah desa sebenarnya sudah memiliki fondasi yang cukup baik. Namun, pasokan sampah yang sudah dipilah dari masyarakat masih sangat minim karena kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya belum terbentuk. Karena itu kami memulai dari sekolah agar budaya tersebut tumbuh sejak usia dini,” ujar Dzakil.
Melalui pendekatan tersebut, Program SEJUTA diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan sekolah ramah lingkungan yang mampu menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Malang.
Hadirkan Tiga Zona Tempat Sampah Edukatif
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberhasilan program, MMD UB Kelompok 9 berkolaborasi dengan komunitas lingkungan Wiskomunalian Malang menghadirkan tiga unit tempat sampah edukatif dengan klasifikasi yang berbeda.
Ketiga tempat sampah tersebut terdiri atas zona sampah botol plastik, zona sampah kertas, dan zona sampah kaleng. Masing-masing dirancang dengan tampilan menarik agar mudah dikenali oleh siswa.
Seluruh tempat sampah ditempatkan di titik-titik strategis di lingkungan sekolah sehingga dapat digunakan setiap hari oleh seluruh warga sekolah. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung terwujudnya sekolah ramah lingkungan yang mengedepankan budaya memilah sampah sejak dari sumbernya.
Selain menyediakan sarana fisik, mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai fungsi setiap tempat sampah serta jenis-jenis sampah yang dapat dimasukkan ke dalamnya.
Edukasi Interaktif Tingkatkan Kesadaran Siswa
Salah satu keunggulan Program SEJUTA adalah metode pembelajaran yang tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga dikemas melalui permainan edukatif.
Para siswa diajak mengelompokkan berbagai jenis sampah ke dalam tempat sampah yang sesuai. Metode praktik langsung tersebut membuat anak-anak lebih mudah memahami perbedaan sampah plastik, kertas, maupun kaleng tanpa harus menghafalkan istilah yang rumit.

Suasana kegiatan berlangsung meriah. Para siswa terlihat aktif menjawab pertanyaan dan berpartisipasi dalam setiap permainan yang disiapkan oleh mahasiswa.
Pendekatan edukatif seperti ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten, sehingga budaya menjaga kebersihan sekolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dosen Pembimbing Apresiasi Program Berkelanjutan
Dosen Pembimbing Lapang MMD UB, Amelia Ika Pratiwi, S.E., MSA., Ak., CSRS., dari Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya, memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan program yang memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Menurutnya, Program SEJUTA tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dirancang sebagai gerakan berkelanjutan yang menyasar akar persoalan pengelolaan sampah di Desa Bakalan.
Ia menilai keterlibatan sekolah dasar sebagai mitra strategis merupakan langkah yang tepat karena pendidikan lingkungan sebaiknya dimulai sejak usia dini. Dengan demikian, kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat tumbuh secara alami dan berkelanjutan.
Pendampingan Berlanjut untuk Membangun Budaya Peduli Lingkungan
Setelah peluncuran program, MMD UB Kelompok 9 akan melanjutkan kegiatan melalui tahap pendampingan pemilahan sampah di MI Nurul Huda.
Pendampingan tersebut bertujuan memastikan siswa mampu menerapkan kebiasaan memilah sampah secara mandiri dalam aktivitas sehari-hari. Sistem yang dibangun juga diharapkan dapat mendukung pengelolaan bank sampah desa melalui pasokan sampah yang telah dipilah dari lingkungan sekolah.
Melalui Program SEJUTA, mahasiswa berharap MI Nurul Huda dapat menjadi contoh sekolah ramah lingkungan yang berhasil membangun budaya peduli sampah sejak dini. Dengan melibatkan siswa sebagai agen perubahan, kebiasaan menjaga lingkungan diharapkan tidak hanya berkembang di sekolah, tetapi juga menyebar ke keluarga dan masyarakat Desa Bakalan.
Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, komunitas lingkungan, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan pengelolaan sampah. Langkah sederhana berupa pemilahan sampah sejak dini diharapkan dapat memberikan dampak besar dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.












