Bondowoso, ZonaJatim – Sosialisasi Anti Bullying yang digelar Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 198 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menjadi langkah inspiratif dalam membangun budaya sekolah ramah dan bebas perundungan di Yayasan Pendidikan Nurul Hasan, Desa Trotosari, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar aman, nyaman, dan penuh rasa saling menghargai. Melalui edukasi yang dikemas secara menarik dan interaktif, para siswa diajak memahami pentingnya menghentikan segala bentuk bullying di sekolah sejak usia dini.
Berbeda dengan program kerja yang telah disusun sebelumnya, kegiatan ini justru lahir dari permintaan langsung pihak Yayasan Pendidikan Nurul Hasan. Melihat pentingnya memberikan pemahaman mengenai bahaya perundungan kepada peserta didik baru, pihak sekolah menggandeng mahasiswa KKN UINSA 198 untuk memberikan edukasi kepada seluruh siswa.
Momentum tersebut dinilai sangat tepat karena bertepatan dengan masa orientasi dan penerimaan peserta didik baru. Dengan demikian, nilai-nilai saling menghormati dan menghargai dapat ditanamkan sejak hari pertama siswa memasuki lingkungan sekolah.
Sosialisasi Anti Bullying Tanamkan Budaya Sekolah Ramah Sejak Dini
Dalam kegiatan Sosialisasi Anti Bullying ini, mahasiswa KKN UINSA memberikan materi mengenai pengertian bullying atau perundungan beserta berbagai bentuknya. Para siswa dikenalkan bahwa tindakan perundungan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat berbentuk ejekan verbal, pengucilan sosial, hingga cyber bullying yang kini semakin sering terjadi di era digital.
Mahasiswa menjelaskan bahwa setiap bentuk perundungan memiliki dampak serius, baik terhadap korban maupun pelaku. Korban bullying dapat mengalami penurunan rasa percaya diri, stres, gangguan psikologis, bahkan kehilangan semangat belajar. Sementara itu, pelaku berpotensi mengembangkan perilaku agresif yang dapat berdampak buruk terhadap kehidupan sosialnya di masa depan.
Materi yang disampaikan dalam Sosialisasi Anti Bullying mengacu pada panduan Stop Perundungan yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, sehingga informasi yang diberikan mudah dipahami dan sesuai dengan prinsip pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Suasana penyampaian materi dibuat santai sehingga siswa terlihat antusias mengikuti setiap sesi. Mahasiswa juga menyisipkan berbagai contoh kasus sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari agar peserta lebih mudah memahami perbedaan antara bercanda dan tindakan yang termasuk kategori perundungan.
Edukasi Pencegahan Bullying Dikemas Interaktif
Agar penyampaian materi tidak membosankan, mahasiswa KKN 198 mengajak seluruh peserta mengikuti kuis refleksi diri. Melalui kuis tersebut, siswa diminta menjawab beberapa pertanyaan sederhana mengenai kebiasaan yang sering mereka lakukan terhadap teman.
Misalnya, apakah pernah mengejek teman, memaksa melakukan sesuatu, menertawakan kekurangan orang lain, atau mengucilkan teman dari kelompok bermain.

Melalui metode ini, siswa diajak melakukan evaluasi terhadap perilaku mereka sendiri. Banyak siswa yang baru menyadari bahwa tindakan yang selama ini dianggap sekadar candaan ternyata dapat melukai perasaan orang lain dan termasuk dalam bentuk perundungan di sekolah.
Pendekatan yang interaktif tersebut membuat suasana sosialisasi menjadi lebih hidup. Para siswa tampak aktif menjawab pertanyaan, berdiskusi, hingga menyampaikan pengalaman mereka ketika melihat maupun mengalami tindakan yang mengarah pada bullying.
Mengenalkan Konsep Upstanders kepada Siswa
Selain menjelaskan berbagai bentuk bullying, mahasiswa juga mengenalkan konsep upstanders, yaitu sikap berani bertindak ketika melihat adanya tindakan perundungan.
Siswa diberikan pemahaman bahwa menjadi saksi yang hanya diam dapat membuat pelaku merasa tindakannya dibenarkan. Sebaliknya, menjadi upstander berarti berani membantu korban dengan cara yang aman dan tepat.
Mahasiswa memberikan beberapa contoh tindakan sederhana yang dapat dilakukan siswa, seperti tidak ikut menertawakan korban, memberikan dukungan kepada teman yang mengalami perundungan, hingga melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
Konsep ini mendapat respons positif dari para peserta. Banyak siswa menyampaikan bahwa mereka kini lebih memahami pentingnya saling menjaga dan tidak membiarkan teman menghadapi perundungan sendirian.
Antusiasme Siswa Jadi Modal Mewujudkan Sekolah Bebas Bullying
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme siswa terlihat begitu tinggi. Mereka aktif mengikuti seluruh rangkaian acara mulai dari penyampaian materi, sesi diskusi, hingga kuis refleksi.
Interaksi yang terjalin antara mahasiswa dan siswa membuat suasana belajar terasa lebih menyenangkan. Tidak sedikit peserta yang mengajukan pertanyaan mengenai cara menghadapi teman yang melakukan bullying maupun langkah yang harus diambil apabila menjadi korban.
Semangat tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai pencegahan bullying sangat dibutuhkan di lingkungan sekolah. Dengan pemahaman yang baik, siswa diharapkan mampu membangun budaya saling menghargai serta menciptakan hubungan pertemanan yang sehat.
Komitmen Mahasiswa KKN UINSA Membangun Lingkungan Belajar Aman
Melalui kegiatan Sosialisasi Anti Bullying, mahasiswa KKN Kelompok 198 UINSA berharap kesadaran siswa mengenai bahaya perundungan terus tumbuh dan menjadi bagian dari karakter mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai empati, kepedulian, serta keberanian untuk mencegah segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.
Mahasiswa berharap para siswa mampu menjadi agen perubahan yang ikut menciptakan sekolah bebas bullying, membangun budaya sekolah positif, serta menjaga lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan kondusif bagi seluruh warga sekolah.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pihak sekolah, guru, dan para siswa, upaya membangun sekolah yang ramah anak diharapkan dapat terus berlanjut. Kehadiran mahasiswa KKN UINSA 198 pun menjadi bukti bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui edukasi yang memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter generasi muda. Dengan langkah kecil yang dilakukan hari ini, harapannya akan lahir lingkungan pendidikan yang lebih aman, saling menghargai, dan bebas dari segala bentuk perundungan di masa mendatang.












