Malang, ZonaJatim – Cup ramah lingkungan kini mulai dikembangkan sebagai alternatif kemasan minuman yang lebih berkelanjutan. Salah satu inovasi tersebut datang dari mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui KOFEA, produk cup biodegradable yang memanfaatkan ampas kopi dan pati talas beneng sebagai bahan utama.
KOFEA dikembangkan oleh lima mahasiswa lintas jurusan, yakni Oktaviana Putri Lestari C, Febriana Nurdaningrum, Azzra Amaritha Iswa, Nikmatul Fitriyah, dan Sarah Khoirun Nisa. Inovasi tersebut berada di bawah bimbingan Prof. Dr. Evi Susanti, S.Si., M.Si.
Pengembangan KOFEA juga mendapat dukungan pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang diselenggarakan pemerintah.
Cup Ramah Lingkungan Berawal dari Limbah Ampas Kopi
Ide pembuatan KOFEA Cup Ramah Lingkungan berangkat dari persoalan penggunaan kemasan kopi sekali pakai. Selama ini, paper cup yang digunakan di banyak kedai kopi umumnya memiliki lapisan tambahan agar tidak mudah ditembus cairan. Lapisan tersebut dapat membuat proses pengelolaan dan daur ulang kemasan menjadi lebih kompleks.
Melihat persoalan tersebut, tim KOFEA mencoba memanfaatkan limbah yang mudah ditemukan di lingkungan kedai kopi, yaitu spent coffee grounds atau ampas kopi.
Ampas kopi yang biasanya berakhir sebagai limbah justru dimanfaatkan sebagai salah satu bahan utama pembuatan cup. Pendekatan ini sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah organik menjadi material yang memiliki nilai tambah.
Dalam formulasi KOFEA, ampas kopi dipadukan dengan pati talas beneng. Pati tersebut berfungsi sebagai salah satu komponen matriks yang membantu mengikat partikel ampas kopi sehingga dapat membentuk struktur cup.
Komposisi utama yang digunakan tim memiliki perbandingan ampas kopi dan pati talas beneng sebesar 2:1. Formula tersebut kemudian dilengkapi bahan pendukung seperti gliserol, asam sitrat, beeswax, dan minyak kelapa.
Kombinasi bahan tersebut dirancang untuk menghasilkan kemasan yang cukup kokoh sekaligus memiliki karakteristik yang sesuai untuk penggunaan sebagai wadah minuman.
Teknologi Produksi KOFEA Menggunakan Hot Pressing
Tidak hanya mengandalkan bahan baku alternatif, tim KOFEA juga mengembangkan metode produksi khusus untuk membentuk material menjadi cup.
Proses pembuatannya menggunakan metode hot pressing. Bahan yang telah dicampurkan sesuai formulasi kemudian dicetak menggunakan mesin hot press hingga membentuk struktur cup.
Setelah proses pencetakan, produk mendapatkan lapisan tipis beeswax melalui metode dip-coating. Lapisan tersebut digunakan sebagai bagian dari formulasi untuk membantu meningkatkan ketahanan cup terhadap cairan.
Teknologi tersebut dikembangkan tim sebagai bagian dari konsep Heat-Resistance Technology. Berdasarkan klaim tim, KOFEA dirancang agar dapat digunakan untuk menampung minuman panas dengan risiko perubahan bentuk dan kebocoran yang lebih rendah.
Meski demikian, performa produk tetap perlu dilihat berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan. Karena itu, klaim mengenai ketahanan panas dan daya tahan produk sebaiknya dipahami sebagai hasil pengembangan dan pengujian tim KOFEA.
Ampas Kopi Memberikan Karakter Unik pada KOFEA
Selain aspek fungsional, penggunaan ampas kopi juga memberikan karakter visual yang berbeda pada KOFEA.
Material tersebut membuat cup memiliki warna cokelat alami. Tampilan ini menjadi salah satu ciri khas produk dan memberikan kesan berbeda dibandingkan paper cup berwarna putih maupun kemasan kraft yang banyak digunakan di pasaran.
Tim KOFEA juga menyebut aroma kopi pada produk akhir relatif rendah. Hal ini menjadi perhatian penting karena material berbasis ampas kopi berpotensi membawa aroma khas dari bahan bakunya.
Dengan formulasi yang dikembangkan, tim berupaya menghasilkan cup biodegradable dari ampas kopi yang tidak hanya memiliki nilai lingkungan, tetapi juga tetap nyaman digunakan sebagai kemasan minuman.
Produk KOFEA saat ini dikemas dalam ukuran 8 oz. Dalam satu kemasan terdapat 20 cup beserta tutup atau lid.
Potensi Cup Biodegradable dari Ampas Kopi
Pemanfaatan ampas kopi menjadi cup ramah lingkungan memiliki potensi menarik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.
Bagi industri kopi, ampas kopi merupakan limbah yang dihasilkan hampir setiap hari. Jika sebagian limbah tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku produk, nilai ekonominya dapat meningkat sekaligus mengurangi jumlah limbah yang harus dibuang.
Konsep tersebut juga sejalan dengan pendekatan ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah agar memiliki fungsi dan nilai baru.
Selain ampas kopi, penggunaan pati talas beneng juga memberikan sisi menarik dalam pengembangan material berbasis bahan alam. Kombinasi kedua bahan tersebut menunjukkan bagaimana bahan yang mudah ditemukan dapat dikembangkan menjadi produk dengan fungsi yang lebih tinggi.
Namun, penerapan produk secara luas tetap membutuhkan pengujian dan validasi lebih lanjut, terutama terkait keamanan pangan, ketahanan terhadap suhu dan cairan, serta kemampuan biodegradasi dalam kondisi lingkungan yang berbeda.
Tim KOFEA Klaim Produk Mengacu pada Pengujian Standar
Dalam pengembangan produknya, tim KOFEA menyatakan telah melakukan pengujian kualitas dengan mengacu pada standar nasional yang mereka gunakan sebagai rujukan.
Pengujian yang disebutkan tim mencakup aspek migrasi total dan biodegradabilitas. Kedua aspek tersebut penting karena produk dirancang sebagai wadah makanan atau minuman sekaligus membawa klaim sebagai material yang dapat terurai secara alami.
Tim juga menyebut KOFEA dapat terurai dalam waktu kurang dari 60 hari berdasarkan pengujian yang mereka lakukan.
Namun, hasil pengujian secara lengkap belum dipublikasikan secara terbuka. Karena itu, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai klaim berdasarkan pengujian internal tim dan bukan sebagai hasil yang telah diverifikasi secara independen.
Keterbukaan mengenai metode, kondisi pengujian, dan hasil lengkap akan menjadi langkah penting untuk memperkuat kredibilitas KOFEA apabila produk dikembangkan menuju tahap komersialisasi.
KOFEA Buka Peluang Inovasi Kemasan Berkelanjutan
Kehadiran KOFEA menunjukkan bahwa persoalan limbah dapat menjadi peluang untuk menghasilkan produk inovatif. Ampas kopi yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sisa konsumsi kini dikembangkan menjadi bagian dari material kemasan.
Bagi mahasiswa, inovasi seperti KOFEA juga memperlihatkan bagaimana kegiatan akademik dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang ada di masyarakat.
Ke depan, pengembangan cup ramah lingkungan dari ampas kopi masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Pengujian yang lebih luas, penyempurnaan formulasi, efisiensi produksi, keamanan pangan, hingga kesiapan pasar menjadi sejumlah aspek yang penting diperhatikan.
Jika berbagai aspek tersebut dapat dikembangkan secara konsisten, KOFEA berpeluang menjadi salah satu contoh pemanfaatan limbah kopi menjadi produk bernilai tambah.
Inovasi mahasiswa UM tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa limbah dari aktivitas sehari-hari tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Dengan teknologi dan kreativitas, ampas kopi dapat dikembangkan menjadi bahan untuk menghadirkan alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan seperti KOFEA Cup Ramah Lingkungan.












