Tuban, ZonaJatim – Progam SUKOGIZI menjadi salah satu langkah nyata mahasiswa BBK 8 Universitas Airlangga dalam meningkatkan edukasi gizi sekaligus mendukung pencegahan stunting di Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Kegiatan yang berlangsung dengan lancar ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat, khususnya para ibu hamil dan ibu yang memiliki balita sebagai sasaran utama program. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran keluarga akan pentingnya menerapkan pola makan bergizi seimbang sejak dini.
Sebanyak 15 peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dirancang secara interaktif. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi mengenai stunting, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya memenuhi kebutuhan gizi keluarga melalui pemanfaatan pangan lokal yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan hingga sesi penutupan, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap informasi yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.
Progam SUKOGIZI Edukasi Gizi Keluarga melalui Pangan Lokal
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta mengenai stunting, gizi seimbang, serta pola makan sehat. Hasil pre-test tersebut menjadi dasar bagi tim mahasiswa dalam menyampaikan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta.
Pada sesi edukasi, mahasiswa BBK 8 Universitas Airlangga menjelaskan mengenai penyebab stunting, dampaknya terhadap tumbuh kembang anak, hingga berbagai langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak masa kehamilan. Peserta juga dikenalkan dengan konsep Pedoman Isi Piringku, yang menjadi panduan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi harian keluarga.
Selain membahas pentingnya konsumsi makanan bergizi, mahasiswa juga mengajak peserta memanfaatkan berbagai bahan pangan lokal sebagai sumber nutrisi yang mudah dijangkau dan memiliki nilai gizi tinggi. Pendekatan ini dinilai penting karena dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi tanpa harus bergantung pada bahan pangan yang mahal.
Setelah penyampaian materi selesai, peserta kembali mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mendapatkan edukasi. Kegiatan evaluasi tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pentingnya gizi seimbang dan upaya pencegahan stunting.
Tidak hanya berhenti pada teori, mahasiswa juga menghadirkan demonstrasi pembuatan puding jagung sebagai salah satu contoh olahan pangan lokal yang sederhana, lezat, sekaligus bergizi. Jagung dipilih karena merupakan bahan pangan yang mudah ditemukan masyarakat setempat serta mengandung berbagai nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.
Selama proses demonstrasi berlangsung, para ibu terlihat aktif memperhatikan setiap tahapan pembuatan. Mereka juga mengajukan berbagai pertanyaan mengenai cara pengolahan, komposisi bahan, hingga tips agar makanan tetap disukai anak-anak.
Setelah puding jagung selesai dibuat, seluruh peserta bersama anak-anak yang hadir diberikan kesempatan untuk mencicipinya. Respons yang diberikan sangat positif. Banyak peserta menilai rasa puding tersebut enak, teksturnya lembut, serta cocok dijadikan camilan sehat bagi balita maupun anggota keluarga lainnya.
Kegiatan praktik memasak ini sekaligus memberikan inspirasi kepada para ibu bahwa pangan lokal dapat diolah menjadi makanan bergizi yang menarik dan bernilai ekonomi apabila dikembangkan lebih lanjut.
Apresiasi juga datang dari Bidan Desa Sukorejo, Bu Sulistin, yang menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dari Universitas Airlangga yang sudah memberikan edukasi kepada ibu-ibu balita di Desa Sukorejo. Tadi ibu-ibu dan anak-anak terlihat senang, bahkan hasil olahan puding jagungnya juga langsung dimakan bersama. Mudah-mudahan setelah kegiatan ini, ibu-ibu dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diberikan dan lebih kreatif dalam mengolah berbagai bahan pangan lokal menjadi makanan bergizi untuk anak, tidak hanya terbatas pada makanan pokok saja,” ujar Bu Sulistin.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan keluarga. Edukasi yang disampaikan dengan metode sederhana dan mudah dipahami membuat peserta lebih mudah menerima informasi dan berpotensi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi mahasiswa BBK 8 Universitas Airlangga, kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup yang lebih sehat. Mereka berharap para ibu semakin memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita.
Pencegahan stunting memang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Selain tenaga kesehatan, keluarga memiliki peran utama dalam memastikan anak memperoleh asupan nutrisi yang cukup selama masa pertumbuhan. Karena itu, edukasi mengenai gizi seimbang menjadi investasi penting untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Melalui progam SUKOGIZI, mahasiswa Universitas Airlangga berharap masyarakat Desa Sukorejo semakin percaya diri dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi. Langkah sederhana seperti mengolah jagung menjadi puding bergizi diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi keluarga untuk menghadirkan menu sehat yang mudah dibuat di rumah.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak peserta sehingga manfaat edukasi gizi, pemanfaatan pangan lokal, dan pencegahan stunting dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas. Dengan semangat kolaborasi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat, progam SUKOGIZI menjadi contoh nyata bagaimana edukasi sederhana mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas kesehatan keluarga di Kabupaten Tuban.










