Malang, ZonaJatim – Universitas Negeri Malang (UM) terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan kampus berkelanjutan melalui penguatan pengelolaan sampah berbasis Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Komitmen tersebut ditegaskan dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 yang digelar di area parkir Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Jumat (5/6).
Melalui kampanye lingkungan yang melibatkan sivitas akademika, UM mengajak seluruh warga kampus untuk lebih aktif mengurangi produksi sampah sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan. Langkah ini menjadi bagian dari kontribusi kampus dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin dirasakan secara global.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat berbagai program pengelolaan sampah yang telah dijalankan. Salah satu fokus utamanya adalah mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui sistem pengelolaan terpadu yang berkelanjutan.

Sebagai upaya nyata, UM terus mengoptimalkan keberadaan TPS 3R yang berfungsi mengelola limbah secara lebih efektif. Kampus juga mengembangkan program Bank Sampah TPS 3R UM yang memungkinkan sampah anorganik memiliki nilai ekonomi melalui sistem tabungan sampah. Program tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.
Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., menegaskan bahwa pelestarian lingkungan harus menjadi perhatian bersama yang diwujudkan melalui tindakan konkret.
“Kita hidup karena ada lingkungan hidup. Saat ini dunia menghadapi krisis iklim, es mencair, dan daratan berkurang. Pengelolaan sampah harus ditingkatkan agar tidak semuanya masuk ke TPA. Ini dilakukan secara bertahap melalui bank sampah dan berbagai upaya pengurangan emisi,” ujarnya.
Dalam implementasinya, UM menerapkan sistem pemilahan sampah sejak dari sumber. Setiap unit kerja, mulai dari fakultas, laboratorium hingga perkantoran, diwajibkan memisahkan sampah berdasarkan tiga kategori, yaitu sampah organik, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis, serta sampah anorganik non-ekonomis. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik diproses melalui mekanisme daur ulang.
Kebijakan tersebut dinilai memberikan berbagai manfaat, baik dari sisi lingkungan maupun pembentukan budaya hidup berkelanjutan di lingkungan kampus. Selain membantu mengurangi beban TPA dan menekan potensi pencemaran, sistem ini juga mendorong tumbuhnya kesadaran sivitas akademika terhadap isu-isu lingkungan global. Lingkungan kampus yang lebih bersih pun diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan sehat.
Ketua Green Campus UM, Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., menyebut pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan kampus berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah menjadi perhatian utama bagi kami. UM terus mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah terpadu yang mampu menangani limbah organik maupun anorganik secara lebih efektif,” tegasnya.
Program Bank Sampah TPS 3R UM juga dinilai memberikan dampak sosial dan ekonomi yang positif. Sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kardus tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat memberikan nilai tambah bagi penggunanya. Melalui sistem tabungan sampah, sivitas akademika dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus berpartisipasi dalam upaya pengurangan pencemaran lingkungan.
Di samping itu, optimalisasi TPS 3R dan bank sampah turut berkontribusi dalam menekan emisi gas rumah kaca. Berkurangnya volume sampah yang dibuang ke TPA menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
Upaya yang dilakukan UM juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 terkait Penanganan Perubahan Iklim.
Melalui berbagai program tersebut, UM terus memperkuat posisinya sebagai kampus hijau yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.












