Bojonegoro, ZonaJatim – Dalam rangka mengenal sejarah dan kearifan lokal masyarakat Desa Clebung, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Bojonegoro (UNIGORO) Kelompok 9 melakukan kunjungan ke kawasan Sendang dan Pesarean Raden Bagus Lancing Kusumo yang berada di Dusun Nggeneng, Desa Clebung, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro.
Raden Bagus Lancing Kusumo dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Bojonegoro bagian selatan, khususnya di Kecamatan Bubulan.
Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, beliau berasal dari Kerajaan Pajang dan kemudian menetap di wilayah Clebung untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat.
Selain itu, beliau juga diyakini sebagai sosok yang membuka kawasan hutan yang kemudian berkembang menjadi permukiman dan lahan pertanian warga.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa KKN UNIGORO Kelompok 9 berkesempatan berdialog langsung dengan Mbah Watimo, selaku juru kunci Sendang dan Pesarean Raden Bagus Lancing Kusumo.
Mbah Watimo menjelaskan berbagai kisah sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Raden Bagus Lancing Kusumo dalam menyebarkan agama Islam serta asal-usul terbentuknya Dusun Nggeneng dan Desa Clebung.

Selain mengunjungi area makam, mahasiswa juga mendatangi Sendang Nggeneng, sumber mata air yang hingga kini masih terjaga kelestariannya dan memiliki nilai sejarah bagi masyarakat sekitar.
Menurut penuturan Mbah Watimo, sendang tersebut telah ada sejak zaman Raden Bagus Lancing Kusumo dan menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Di kawasan sendang terdapat dua batu bersejarah yang hingga kini masih menjadi bagian dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun. Batu pertama dikenal sebagai Batu Dakon atau Batu Congklak. Batu ini memiliki cekungan-cekungan yang menyerupai papan permainan tradisional congklak.
Menurut cerita yang disampaikan Mbah Watimo, pada masa lalu Raden Bagus Lancing Kusumo menggunakan batu tersebut untuk bermain dakon.
Berbeda dengan permainan congklak pada umumnya yang menggunakan biji sawo, kerang, atau kelereng sebagai alat permainan, konon Raden Bagus Lancing Kusumo menggunakan butiran emas sebagai pengganti biji congklak. Namun, keberadaan emas tersebut kini sudah tidak diketahui lagi dan tidak ada yang mengetahui ke mana perginya.
Batu kedua dikenal sebagai Batu Silo, yaitu batu yang dipercaya pernah digunakan oleh Raden Bagus Lancing Kusumo sebagai tempat beribadah dan melaksanakan salat. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu pada bagian atas batu tersebut terdapat tulisan berlafaz “Allah” yang tampak jelas.
Namun, tulisan tersebut kini sudah tidak ada lagi. Berdasarkan cerita yang dituturkan secara turun-temurun, hilangnya tulisan tersebut diduga karena dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun tidak ada catatan pasti yang dapat membuktikan peristiwa tersebut.
Mbah Watimo juga menyampaikan bahwa terdapat sejumlah aturan dan pantangan yang masih dihormati oleh masyarakat maupun para peziarah yang datang ke kawasan sendang.
Salah satu pantangan yang dipercaya secara turun-temurun adalah wanita yang sedang mengalami haid tidak diperkenankan memasuki area sendang. Larangan tersebut merupakan bagian dari adat dan kepercayaan lokal yang hingga kini masih dijaga dan dihormati sebagai bentuk penghormatan terhadap kesakralan kawasan tersebut.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa KKN UNIGORO Kelompok 9 berharap keberadaan Sendang Nggeneng dan Pesarean Raden Bagus Lancing Kusumo dapat terus terjaga, dilestarikan, dan dikenalkan kepada masyarakat luas sebagai salah satu aset sejarah dan budaya yang dimiliki Kabupaten Bojonegoro.
Selain memiliki nilai sejarah, kawasan ini juga menyimpan berbagai cerita rakyat, tradisi, serta peninggalan yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Desa Clebung dan Kecamatan Bubulan secara keseluruhan.











