MALANG, ZonaJatim – Produk kuliner SMKN 1 Turen kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Sejumlah produk hasil karya siswa dari konsentrasi keahlian kuliner berhasil memperoleh sertifikat halal, sebagai bukti bahwa produk yang dikembangkan telah memenuhi standar kehalalan dan kualitas yang dibutuhkan masyarakat.
RELATED POSTS
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 1 Turen, Aulia Arie Fatmi, S.E., M.M., mengatakan bahwa sertifikasi halal menjadi salah satu bentuk jaminan bagi konsumen bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar kehalalan sekaligus kualitas yang baik.
Menurutnya, keberhasilan memperoleh sertifikat halal juga menjadi prestasi tersendiri bagi sekolah dan siswa karena produk yang diajukan telah mendapatkan pengakuan resmi dari lembaga terkait.
“Masyarakat pengennya ketika membeli ada keyakinan kalau produk yang mereka konsumsi itu adalah produk yang halal. Karena masyarakat saat ini juga sangat memahami pentingnya pengakuan halal itu,” ujar Aulia, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan bahwa sekolah berupaya menjawab kebutuhan tersebut agar produk yang dibuat siswa tidak hanya dikenal di lingkungan internal sekolah, tetapi juga diterima lebih luas oleh masyarakat.
“Nah, kita juga merespons itu (halal), supaya kita mendapat pengakuan secara umum, enggak hanya di dalam saja (lingkungan sekolah) tetapi di luar juga,” imbuhnya.

Apresiasi terhadap pencapaian tersebut juga disampaikan Kepala SMKN 1 Turen, Dr. Suyitno, M.Pd. Saat meninjau pelaksanaan proyek kolaborasi yang menjadi bagian dari Penilaian Sumatif Akhir Semester (PSAS), ia menyempatkan diri melihat berbagai produk kuliner hasil karya siswa.
Dalam kesempatan itu, Suyitno menilai siswa telah menunjukkan kreativitas sekaligus kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, termasuk pentingnya sertifikasi halal sebagai nilai tambah sebuah produk.
“Saya melihat anak-anak sangat kreatif di dalam menciptakan produk. Yang penting adalah bagaimana anak belajar kepekaan sosial, bagaimana anak bisa bekerja dengan tim,” tutur Suyitno.
Produk Kuliner SMKN 1 Turen Kini Bersertifikat Halal, Jadi Bukti Mutu dan Kepercayaan Masyarakat
Aulia menjelaskan bahwa keberadaan sertifikat halal semakin memperkuat daya saing produk kuliner yang dibuat siswa. Selain memberikan rasa aman bagi konsumen, sertifikasi tersebut juga menjadi bukti bahwa produk telah melalui proses verifikasi sesuai standar yang ditetapkan.
Dengan demikian, masyarakat dapat lebih percaya terhadap kualitas maupun kelayakan konsumsi produk yang dihasilkan oleh siswa SMKN 1 Turen.
“Dengan adanya sertifikat halal yang kita pegang, kita jadi punya nilai lebih. Nilai lebihnya bahwa kita dipercaya masyarakat, produk-produk kita layak konsumsi dan juga dipastikan kehalalannya,” terang Aulia.
Dalam proses pengurusan sertifikasi halal, sekolah bekerja sama dengan lembaga sertifikasi halal Masjid Istiqlal Jakarta. Seluruh proses pendampingan diberikan tanpa biaya kepada sekolah.
Aulia mengungkapkan bahwa tahapan sertifikasi membutuhkan waktu yang cukup panjang. Proses diawali dengan visitasi ke sekolah untuk memastikan bahan baku dan peralatan yang digunakan memenuhi standar. Setelah dinyatakan layak, produk kemudian didaftarkan melalui sistem aplikasi dan menjalani pengujian fisik.
“Sudah sekitar 6 bulan atau satu semester, termasuk visitasi sampai keluar sertifikat halal untuk 8 produk yang kita ajukan,” jelasnya.
PSAS Berbasis Proyek Kolaboratif Ukur Kompetensi Siswa Secara Menyeluruh
Selain keberhasilan memperoleh sertifikat halal, pelaksanaan Penilaian Sumatif Akhir Semester (PSAS) berbasis proyek kolaboratif juga menjadi salah satu program unggulan yang tengah berjalan di SMKN 1 Turen. Kegiatan tersebut berlangsung mulai 25 Mei hingga 8 Juni 2026.
Semester ini menjadi kali kedua sekolah menerapkan model PSAS berbasis proyek kolaborasi setelah sebelumnya sukses dilaksanakan pada semester ganjil.

Aulia menjelaskan bahwa model penilaian tersebut dirancang untuk melihat pencapaian kompetensi siswa secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga keterampilan praktik dan karakter.
“Kita ingin mengukur ketercapaian kompetensi siswa secara utuh, secara holistik. Artinya tidak hanya mengukur secara skill kognitif saja atau pengetahuan teori saja, tetapi pengetahuan siswa, baik secara praktik maupun sikap dan afektifnya saja,” beber Aulia.
Melalui proyek kolaboratif, sekolah juga berupaya mengasah kemampuan nonteknis atau soft skill yang sangat dibutuhkan di dunia kerja saat ini.
“Jadi melalui project kolaborasi ini, kita tidak hanya tau skill hard-nya saja tapi juga soft skill. Harapannya dengan project ini, anak-anak punya gambaran tentang apa saja yang terjadi di dunia kerja saat ini dan disesuaikan dengan realita kebutuhan saat ini,” tambahnya.
Sementara itu, Suyitno menegaskan bahwa pendidikan masa kini harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui nilai akademik semata.
“Pendidikan era sekarang tidak hanya fokus pada nilai-nilai kognitif dan akademis. Pada akhirnya hanya berupa daftar nilai, tetapi kata kuncinya adalah pendidikan harus berdampak,” tegas Suyitno.
Ia berharap proses pembelajaran yang dijalankan sekolah dapat melahirkan lulusan yang mampu menghadirkan solusi dan membawa perubahan positif di tengah masyarakat.
“Kalau bisa memberi perubahan kepada masyarakat dan juga membawa solusi bagi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat,” tutupnya.










