ZonaJatim – Pagi baru saja merayap di Krembung, Sidoarjo. Bau rempah, hiruk-pikuk tawar-menawar, serta deret kesibukan para pedagang melengkapi riuhnya kehidupan di pasar tradisional.
Namun, di antara deretan lapak, ada pemandangan yang berbeda. Wajah-wajah belia berseragam sekolah tampak sibuk mengatur dagangan, melayani pembeli dengan canggung tapi ramah, hingga menghitung uang kembalian.
Bagi anak-anak usia 12 tahun, riuhnya pasar mungkin terdengar asing. Namun di SMPIT Nurul Islam Krembung, pasar tradisional justru disulap menjadi ruang kelas tanpa dinding—sebuah tempat di mana teori kewirausahaan mewujud dalam peluh dan senyuman.
Melalui program magang wirausaha, para siswa kelas 7 dan 8 diajak untuk menepi sejenak dari bangku sekolah. Bukan untuk sekadar berjualan, melainkan untuk meneguk pelajaran hidup yang tidak selalu ada di buku teks.
Pembelajaran Berbasis Pengalaman di SMPIT Nurul Islam Krembung, Lebih dari Sekadar Ilmu Berdagang
Menanamkan nilai entrepreneurship sejak dini kerap diidentikkan dengan mengajarkan anak cara mencari keuntungan. Namun, pendekatan yang diambil di sini berbeda. Kewirausahaan dipandang sebagai jembatan untuk melatih nilai-nilai dasar kemanusiaan: kedisiplinan, inisiatif, keberanian berkomunikasi, dan empati.
Di balik riuhnya transaksi, para siswa belajar bahwa di balik setiap barang yang dijual, ada proses kerja keras yang panjang. Mereka belajar bagaimana merapikan toko sebelum pelanggan datang, menyapa orang asing dengan ramah, hingga menata kesabaran ketika menghadapi pembeli yang beragam.
Bukan soal apakah kelak mereka akan menjadi pengusaha atau tidak. Nilai-nilai seperti kedisiplinan dan inisiatif adalah hal universal yang akan terus mereka butuhkan sepanjang hidup.
Saling Mengisi di Riuhnya Lapak
Sambutan hangat terpancar dari para pedagang di Pasar Tradisional Krembung. Kehadiran anak-anak belia ini tidak dianggap sebagai beban, melainkan angin segar yang membawa keceriaan di lapak-lapak mereka.
Saling berbagi ilmu terjadi secara alami. Para pedagang dengan telaten membimbing jari-jari muda yang belum terbiasa menghitung transaksi cepat atau menata barang. Sebaliknya, keaktifan para siswa membantu meringankan beban kerja harian para pedagang.
Interaksi manis itu memunculkan keakraban yang tak terduga. Rencana magang yang semula hanya dirancang untuk empat hari, menjadi diperpanjang hingga satu pekan. Anak-anak enggan cepat-cepat kembali, sementara para pedagang merasa gembira karena dibantu oleh kepolosan dan inisiatif para siswa.
Jejak Pengalaman yang Membekas
Waktu magang berlalu dan para siswa kembali ke meja belajar mereka. Namun, pengalaman menatap langsung perjuangan di pasar tradisional meninggalkan jejak yang mendalam. Mereka tidak hanya membawa pulang pemahaman tentang cara berdagang, tetapi juga rasa hormat terhadap setiap profesi dan kerja keras.
Pada akhirnya, pasar tradisional bukan sekadar tempat terjadinya transaksi jual beli. Bagi anak-anak SMPIT Nurul Islam Krembung, pasar telah menjadi tempat mereka memupuk karakter, melatih keberanian, dan mengecap manisnya pengalaman hidup yang akan terus mereka ingat hingga dewasa nanti.












