Malang, ZonaJatim – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Mahasiswa Farmasi UIN Malang Juara LKTI Nasional. Tiga mahasiswa Program Studi Farmasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional yang diselenggarakan ISMAFARSI Indonesia pada 11 Juli 2026. Keberhasilan tersebut diraih berkat gagasan inovatif mengenai pengembangan pelayanan kefarmasian melalui konsep supplementary prescribing berbasis digital.
Tim pemenang terdiri atas Hilma Agusstya mahasiswa semester 2, Meri Tri Jayanti semester 2, dan Ahdina Naylal ‘Izza semester 4. Mereka berhasil mengungguli peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melalui karya ilmiah berjudul “Roadmap Implementasi Supplementary Prescribing Berbasis Digital sebagai Tahapan Transisi Menuju Independent Prescribing.”
Karya tersebut lahir dari perhatian mereka terhadap perkembangan kompetensi klinis apoteker yang dinilai belum diikuti dengan perluasan kewenangan praktik di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan tersendiri, terutama di tengah meningkatnya jumlah pasien penyakit kronis dan tingginya beban pelayanan tenaga medis.
“Kami melihat peran apoteker sebenarnya sudah berkembang, tetapi kewenangan praktiknya belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, meningkatnya kasus penyakit kronis dan beban kerja dokter membuat pelayanan kesehatan membutuhkan kolaborasi yang lebih efektif dan efisien. Dan dari situ kami mencoba menawarkan solusi melalui penerapan supplementary prescribing berbasis digital sebagai awal langkah menuju independent prescribing,” jelas Hilma.
Melalui karya ilmiah tersebut, tim menawarkan strategi penerapan independent prescribing secara bertahap dengan memanfaatkan konsep supplementary prescribing, yakni pola kolaborasi antara dokter dan apoteker dalam menentukan terapi pasien. Menurut mereka, pendekatan tersebut lebih realistis diterapkan karena tetap mengedepankan aspek keamanan pasien sekaligus menyesuaikan dengan kondisi sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Di balik keberhasilan menjadi Juara LKTI Nasional ISMAFARSI, proses penyusunan karya ternyata tidak berjalan mudah. Seluruh tahapan kompetisi berlangsung secara daring, sementara ketiga anggota tim sedang berada di kota berbeda karena masa libur perkuliahan.
Meski menghadapi keterbatasan jarak dan waktu, mereka mampu menyelesaikan penyusunan naskah hanya dalam lima hari. Setelah itu, presentasi dipersiapkan selama tiga hari melalui koordinasi dan diskusi secara daring.
“Kami memang terkendala jarak dan waktu karena sedang liburan dan masing-masing memiliki kegiatan. Namun, kami saling melengkapi dalam mengerjakan setiap bagian karya. Justru kondisi itu membuat kami semakin semangat berdiskusi secara daring agar hasilnya maksimal,” ungkapnya.
Kolaborasi yang solid akhirnya membuahkan hasil ketika nama mereka diumumkan sebagai Juara 1 tingkat nasional. Bagi ketiga mahasiswa Farmasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut, kemenangan ini menjadi bukti bahwa kerja sama, disiplin, dan komitmen mampu mengatasi berbagai keterbatasan.
Hilma mengaku pencapaian tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan akademik sekaligus mengikuti kompetisi ilmiah lainnya.
“Kami tentu juga sangat senang karena usaha dan kerja sama kami bisa membuahkan hasil. Pengalaman ini akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus mencoba tantangan dan cabang lomba lainnya,” tuturnya.
Ia juga membagikan pesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mengikuti berbagai ajang kompetisi sebagai sarana mengembangkan potensi diri.
“Jangan takut mencoba, jangan takut merasa kebingungan, dan yang paling penting jangan pernah takut gagal. Sebuah pencapaian besar selalu dimulai dari sedikit keberanian untuk mengalahkan rasa takut itu,” pesannya.
Prestasi Mahasiswa Farmasi UIN Malang Juara LKTI Nasional ini menjadi bukti bahwa keterbatasan jarak dan waktu bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi yang bermanfaat. Melalui gagasan mengenai supplementary prescribing dan independent prescribing, ketiga mahasiswa tersebut tidak hanya mengharumkan nama kampus, tetapi juga menghadirkan ide yang berpotensi mendukung pengembangan pelayanan kefarmasian dan sistem kesehatan di Indonesia.












