Bojonegoro, ZonaJatim.net — Sebagai bekal sebelum resmi diterjunkan menjalankan program kerja di Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-TK) Kelompok 17 Universitas Bojonegoro (Unigoro) Tahun 2026 terlebih dahulu mengikuti pelatihan pengolahan hasil pertanian berbasis jagung pada Minggu (13/7/2026). Kegiatan tersebut digelar di “Omah Menyok”, Jalan Ngrawan, Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro.
Pelatihan ini menjadi tahap awal untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan mengolah jagung sebelum nantinya ilmu tersebut ditularkan kepada ibu-ibu PKK Desa Napis sebagai bagian dari program kerja unggulan bertema “Eco-Collaborative Village”.
Dalam pelatihan tersebut, tim menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro melalui Bidang Ekonomi Kreatif sebagai mitra strategis. Selain itu, Agitya Kristantoko, founder “Omah Menyok” Bojonegoro, hadir sebagai narasumber sekaligus instruktur utama.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi wujud sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dalam mendorong hilirisasi hasil pertanian, sekaligus mempersiapkan mahasiswa agar siap menjadi fasilitator pelatihan serupa di tengah masyarakat desa.
Kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan yang berlangsung hangat dan penuh keakraban. Ibu Kristin, ibunda Agitya Kristantoko yang akrab disapa Mas Tyo, turut hadir menyambut langsung kedatangan rombongan mahasiswa KKN-TK Kelompok 17 di “Omah Menyok”. Dalam sambutannya, Ibu Kristin menyampaikan rasa syukur sekaligus harapannya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Selamat datang, adik-adik mahasiswa. Semoga kegiatan pelatihan ini bisa menjadi penjembatan bagi Kelompok 17 agar lebih mudah dalam melaksanakan program kerja di desa tempat kalian mengabdi,” ujar Ibu Kristin.
Ucapan tersebut disambut antusias para peserta. Mereka menilai sambutan tersebut mencerminkan semangat kekeluargaan sekaligus dukungan penuh dari pihak “Omah Menyok” terhadap pelaksanaan program pengabdian mahasiswa di Desa Napis.
Materi pelatihan difokuskan pada dua produk unggulan berbahan dasar jagung, yakni mi jagung dan happycorn atau tortilla jagung. Kedua inovasi pangan tersebut dinilai memiliki nilai jual tinggi sekaligus berpotensi menjadi produk khas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Desa Napis.
Seluruh anggota Kelompok 17 dilibatkan secara langsung dalam praktik pengolahan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga teknik pengemasan. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu mentransfer keterampilan tersebut secara mandiri kepada ibu-ibu PKK Desa Napis.

Agitya Kristantoko bukan sosok asing dalam dunia pengolahan hasil pertanian di Bojonegoro. Melalui “Omah Menyok”, sentra pengolahan hasil pertanian terpadu yang berfokus pada produk berbahan dasar singkong (menyok), ia membangun ekosistem usaha yang terintegrasi dengan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S), lahan edukasi bagi pelajar, serta budidaya tanaman hias dan sayuran.
Rekam jejaknya dalam pemberdayaan UMKM telah dimulai sejak 2016. Pada 2020, ia memperoleh penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Nasional Bidang Pangan. Selain aktif sebagai narasumber dan instruktur yang berkolaborasi dengan berbagai instansi pemerintah maupun swasta, sejak 2022 ia juga menjadi tutor Student Advance Program di Universitas Bojonegoro.
“Potensi jagung di Bojonegoro itu besar. Tinggal bagaimana kita mengemasnya menjadi produk yang punya added value dan layak jual. Kalau adik-adik mahasiswa sudah punya keterampilan mengolah, nanti transfer ilmunya ke warga desa juga akan lebih mudah, sekaligus bisa membuka lapangan kerja baru dan memperkuat ketahanan pangan desa,” ujar Agitya di sela-sela pelatihan.
Ketua Kelompok 17 KKN-TK Unigoro, Ari Wibowo, mengucapkan terima kasih atas sambutan yang diberikan keluarga besar “Omah Menyok”.
“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya kesempatan belajar langsung dari praktisi seperti Mas Tyo sebelum kami turun ke Desa Napis. Dengan bekal keterampilan ini, insyaallah kami lebih percaya diri untuk melatih ibu-ibu PKK di sana agar jagung yang selama ini hanya dijual dalam bentuk mentah dapat memiliki nilai tambah,” ujar Ari.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut menjadi bukti program kerja KKN tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan mitra eksternal.
“Kolaborasi dengan Disbudpar dan Omah Menyok ini membuka jalan bagi kami untuk lebih mudah bergerak di desa nanti. Harapannya, setelah mendapatkan bekal ilmu dari sini, kami bisa langsung mempraktikkan sekaligus mengajarkannya kepada warga Desa Napis sehingga mereka memiliki keterampilan konkret yang dapat dikembangkan menjadi usaha,” pungkasnya.
Melalui rangkaian persiapan tersebut, tim KKN-TK Unigoro Kelompok 17 berharap Desa Napis dapat bertransformasi menjadi desa yang tangguh dalam ketahanan pangan, mampu menciptakan lapangan kerja baru berbasis inovasi olahan jagung, serta menjadi contoh model pemberdayaan masyarakat yang kolaboratif antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha kreatif di Kabupaten Bojonegoro.
Penulis:
Novita Elisa Rusdiana Saputri
Sekretaris Kelompok 17 KKN-TK Universitas Bojonegoro Tahun 2026












