Bojonegoro, ZonaJatim – Agroforestry Desa Kedungsari menjadi fokus program pengabdian mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN-TK) Kelompok 6 Tahun Akademik 2025/2026.
RELATED POSTS
Program tersebut diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat, dilanjutkan pemetaan batas kawasan hutan, hingga aksi penanaman pohon sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung ketahanan ekonomi warga.
Rangkaian kegiatan tersebut digelar oleh Kelompok 6 di Balai Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, pada Rabu (22/7/2026). Melalui kegiatan ini, mahasiswa ingin mengenalkan konsep pengelolaan hutan yang mampu mengintegrasikan sektor kehutanan dan pertanian secara berkelanjutan.
Untuk memperkuat pemahaman masyarakat, mahasiswa menghadirkan narasumber dari Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Bojonegoro.
Kehadiran instansi tersebut bertujuan memberikan edukasi mengenai tata kelola kawasan hutan yang ramah lingkungan serta mendorong masyarakat menerapkan konsep agroforestry secara tepat.

Perwakilan CDK Wilayah Bojonegoro, Gatot, menjelaskan bahwa agroforestry atau wanatani merupakan sistem pengelolaan lahan yang memadukan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian. Menurutnya, pola tersebut mampu menjaga keseimbangan ekosistem tanpa mengurangi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Hutan jangan hanya ditanami komoditas jagung secara masif, melainkan harus tetap ditanami pohon-pohon kayu penopang. Agroforestry menjadi solusi yang sangat bagus. Masyarakat tetap bisa menanam tanaman pangan atau buah-buahan di sela-sela pohon kayu, dengan tetap memperhatikan jarak tanam yang ideal agar ekosistem hutan tetap seimbang,” jelas Gatot.
Setelah sesi sosialisasi, program agroforestry Desa Kedungsari berlanjut dengan kegiatan lapangan pada hari berikutnya. Mahasiswa bersama perangkat desa yang juga tergabung dalam Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) melakukan penandaan sekaligus pemetaan batas kawasan hutan sebagai langkah awal dalam mendukung pengelolaan hutan yang lebih tertata.
Kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan aksi penanaman bibit pohon di kawasan hutan desa. Bibit yang ditanam terdiri atas pohon jambu, balsa, dan gmelina. Penanaman dilakukan secara gotong royong oleh mahasiswa, warga, serta pengurus LPHD sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga kelestarian kawasan hutan.

Melalui rangkaian sosialisasi, pemetaan wilayah, hingga penanaman pohon, agroforestry Desa Kedungsari diharapkan dapat menjadi model pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan sehingga kawasan hutan di wilayah selatan Bojonegoro tetap berfungsi sebagai zona hijau yang produktif dan lestari.












