MALANG, ZonaJatim – Prestasi membanggakan kembali diraih SMK Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang. Kepala SMK Negeri 1 Turen, Dr. Suyitno, M.Pd., berhasil meraih predikat Terbaik 1 GTK Transformatif kategori Kepala SMA/SMK/SLB dalam ajang Apresiasi GTK Tingkat Provinsi Jawa Timur 2026.
Penghargaan ini diraih berkat inovasi bertajuk “Transformasi Pembelajaran Berbasis Industri melalui TEKO”. Inovasi tersebut mengintegrasikan tujuh konsentrasi keahlian di SMKN 1 Turen dalam satu wadah pembelajaran kolaboratif.
TEKO sendiri merupakan singkatan dari Tefa Kolaboratif. Melalui konsep ini, pembelajaran lintas kompetensi dirancang agar saling terhubung dan menghasilkan pengalaman belajar yang lebih nyata sesuai kebutuhan dunia industri.
Capaian tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi pembelajaran tidak harus berangkat dari program yang sepenuhnya baru. Konsistensi dalam mengembangkan praktik pembelajaran, kreativitas, dan kerja sama seluruh warga sekolah dapat melahirkan perubahan yang berdampak.
TEKO, Kolaborasi Tujuh Konsentrasi Keahlian
Bagi Dr. Suyitno, inovasi TEKO bukanlah program yang dibuat semata-mata untuk mengikuti ajang penghargaan. Konsep tersebut telah diterapkan dalam aktivitas pembelajaran di SMKN 1 Turen selama lebih dari satu tahun.
Dalam pelaksanaannya, tujuh konsentrasi keahlian berkolaborasi melalui kegiatan praktik pembelajaran dalam satu wadah yang diberi nama SAISAKA (Kafe Kolaborasi).
SAISAKA menjadi ruang bagi siswa dari berbagai bidang keahlian untuk bertemu, mengembangkan kreativitas, dan mempraktikkan keterampilan secara bersama-sama. Dengan pendekatan ini, pembelajaran tidak hanya berpusat pada teori di kelas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung melalui kerja lintas kompetensi.
Membangun kolaborasi tujuh konsentrasi keahlian tentu bukan perkara mudah. Dr. Suyitno mengakui bahwa tantangan terbesar muncul pada tahap awal penerapan inovasi. Seluruh warga sekolah perlu membangun komunikasi, menyamakan visi, dan mengubah pola kerja yang sebelumnya berjalan berdasarkan bidang keahlian masing-masing menjadi budaya kolaborasi.
Proses tersebut kemudian berkembang menjadi praktik pembelajaran yang mendapat pengakuan di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Lalui Seleksi Ketat, Dr. Suyitno Tak Menyangka Raih Penghargaan
Penghargaan Terbaik 1 GTK Transformatif Jawa Timur 2026 diraih melalui serangkaian tahapan seleksi. Proses pengusulan dan pengisian dokumen persyaratan melalui Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Malang dimulai pada 2 September 2026.
Seleksi dilanjutkan dengan penilaian substansi melalui naskah dan video inovasi. Peserta yang lolos kemudian mengikuti tahap wawancara pada 24 Oktober 2026.
Persaingan dalam ajang tersebut cukup ketat. Berdasarkan keterangan Dr. Suyitno, sebanyak 448 GTK lolos verifikasi administrasi dan melanjutkan ke tahap wawancara. Dari jumlah tersebut, 66 GTK kemudian masuk tahap workshop dan gelar karya.
Di tengah proses seleksi tersebut, Dr. Suyitno mengaku tidak menyangka praktik kolaborasi yang selama ini dijalankan bersama warga sekolah justru mendapat apresiasi di tingkat provinsi.
“Selama ini saya bersama Bapak Ibu guru dan tendik serta para murid melakukan Tefa Kolaborasi sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran dan tidak menyangka mendapat pengakuan yang luar biasa sebagai inovasi yang berdampak.”
Baginya, penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas proses pembelajaran yang telah dibangun bersama, bukan sekadar hasil dari persiapan untuk mengikuti kompetisi.
Prestasi yang Lahir dari Kerja Bersama
Dr. Suyitno tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satunya pihak yang berperan dalam pencapaian tersebut. Ia menilai keberhasilan ini merupakan hasil kontribusi seluruh elemen sekolah, mulai dari guru, tenaga kependidikan, murid, hingga Komite Sekolah.
Saat ditanya mengenai pihak yang paling berperan dalam perjalanan meraih penghargaan, ia menegaskan bahwa semua memiliki kontribusi.
“Semua guru dan tendik serta para murid bahkan Komite Sekolah. Semua berperan hingga apresiasi ini kami peroleh.”
Semangat kebersamaan tersebut juga tercermin dalam filosofi TEKO yang menjadi dasar inovasi pembelajaran di SMKN 1 Turen. Dr. Suyitno menggambarkan kolaborasi melalui proses meracik minuman dalam sebuah teko. Berbagai bahan dengan karakter dan takaran berbeda dapat menghasilkan sajian yang bernilai ketika dipadukan secara tepat.
“Ketika minuman mengalir dari sebuah teko, yang kita nikmati sesungguhnya bukan hanya air. Di dalamnya telah berpadu berbagai bahan: gula, teh, kopi, rempah, bahkan sentuhan tangan yang meraciknya. Masing-masing memiliki karakter, fungsi, dan takaran yang berbeda. Namun ketika dipertemukan dalam komposisi yang tepat, semuanya melebur menjadi satu sajian yang memiliki rasa, nilai, dan manfaat. Begitulah dunia industri bekerja. Begitulah sekolah ini seharusnya bekerja.”
Filosofi tersebut menggambarkan bahwa perbedaan kompetensi bukanlah penghalang untuk bekerja bersama. Sebaliknya, perpaduan berbagai keahlian justru dapat menghasilkan nilai tambah dalam proses pembelajaran, sebagaimana kebutuhan dunia industri yang menuntut kerja lintas bidang.
Tambah Deretan Prestasi SMKN 1 Turen
Penghargaan yang diraih Dr. Suyitno turut menambah catatan prestasi SMKN 1 Turen. Sebelumnya, sekolah ini juga memperoleh capaian melalui siswanya yang meraih Juara 2 FIKSI tingkat nasional. Selain itu, salah satu guru SMKN 1 Turen berhasil meraih Juara 1 Anugerah Guru Prima tingkat Kabupaten Malang.
Rangkaian prestasi tersebut menunjukkan kontribusi berbagai unsur sekolah dalam mengembangkan kualitas pendidikan. Guru terus berinovasi dalam pembelajaran, siswa menunjukkan kemampuan dan kreativitas, sementara pimpinan sekolah mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan seluruh warga sekolah.
Keberhasilan tersebut tidak hanya bertumpu pada pencapaian individu, tetapi juga pada upaya membangun budaya belajar dan berkolaborasi secara berkelanjutan.
Siap Wakili Jawa Timur ke Tingkat Nasional
Setelah meraih predikat Terbaik 1 tingkat Provinsi Jawa Timur, Dr. Suyitno akan melanjutkan perjuangannya dengan mewakili provinsi dalam ajang tingkat nasional.
Sejumlah persiapan telah direncanakan, mulai dari menyempurnakan pelaksanaan inovasi, memperluas pengimbasan, hingga mendorong replikasi TEKO di sekolah lain. Ia juga akan mengikuti pembekalan teknis yang diselenggarakan BBGTK Provinsi Jawa Timur.
Namun, target yang ingin dicapai tidak sebatas mempersiapkan diri untuk kompetisi berikutnya. Dr. Suyitno berharap kolaborasi dapat semakin mengakar dan menjadi budaya dalam seluruh proses pembelajaran maupun kegiatan di SMKN 1 Turen.
Dengan demikian, TEKO tidak berhenti sebagai inovasi yang mengantarkan penghargaan, tetapi terus berkembang menjadi model pembelajaran yang memberikan manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan.
Momen pengumuman penghargaan pun menjadi pengalaman yang membekas bagi Dr. Suyitno. Saat namanya disebut sebagai penerima penghargaan, ia justru teringat kepada seluruh warga sekolah yang selama ini terlibat dalam perjalanan membangun SMKN 1 Turen.
“Saat nama saya disebut sebagai penerima penghargaan, yang terbayang adalah wajah-wajah yang setiap hari menghidupkan sekolah ini. Saya teringat Bapak dan Ibu guru yang sabar membimbing, tenaga kependidikan yang memastikan banyak hal berjalan baik, para murid yang terus berani belajar, mencoba, dan bertumbuh, serta Komite Sekolah yang tidak lelah-lelahnya mendukung setiap aktivitas. Saya menyadari betapa banyak tangan yang mengantarkan saya menerima penghargaan ini.”
Penghargaan Terbaik 1 GTK Transformatif 2026 menjadi momentum bagi SMKN 1 Turen untuk terus memperkuat inovasi dan budaya kolaborasi. Melalui TEKO, sekolah ini berupaya membuktikan bahwa keterpaduan berbagai kompetensi dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan industri sekaligus menginspirasi satuan pendidikan lainnya.
Kini, inovasi tersebut bersiap melangkah ke tingkat nasional dengan membawa semangat kolaborasi warga SMKN 1 Turen dan harapan untuk terus mengembangkan pendidikan yang berdampak.












