ZonaJatim – Satelit AI China secara resmi di luncurkan dan berhasil mengorbit. Peluncuran spektakuler ini menandai langkah awal transisi teknologi dari sekadar penginderaan jauh menjadi sistem komputasi antariksa yang mandiri. Mengutip dari laporan resmi CGTN dan Xinhua, roket pengangkut Smart Dragon-3 berhasil meluncur dari wilayah perairan lepas pantai Haiyang di Provinsi Shandong pada Rabu (6/8/2026).
Misi penting yang dikelola oleh Pusat Peluncuran Satelit AI China bernama Taiyuan ini sukses menempatkan satelit Oriental Smart Eye 01 dan 02 ke orbit tujuan. Kehadiran kedua wahana antariksa ini membawa perubahan besar dalam skema pemrosesan data penginderaan jauh modern. Berbeda dari satelit konvensional yang mengirimkan seluruh data mentah ke bumi, satelit canggih ini mampu menganalisis data secara langsung di antariksa.
Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Satelit AI China
Kemampuan analitis mandiri di luar angkasa tersebut didukung oleh perangkat pemroses kecerdasan buatan terintegrasi yang sangat kuat. Setiap unit satelit dibekali dengan daya komputasi AI berkapasitas tinggi hingga mencapai 400 TOPS atau 400 triliun operasi per detik. Menurut penjelasan Song Bingchen selaku co-founder Star.ai, kapasitas pemrosesan satu satelit ini setara dengan gabungan kekuatan 20 hingga 30 unit laptop berkinerja tinggi.
Kedua satelit Oriental Smart Eye dilengkapi dengan resolusi spasial setinggi lima meter serta lebar cakupan pemotretan mencapai 300 kilometer. Selain itu, perangkat pencitraan pada wahana ini mengusung 22 saluran spektral terkalibrasi untuk mengidentifikasi objek secara mendalam. Satelit ini tidak hanya merekam bentuk dan warna permukaan bumi, tetapi juga mampu mengenali jejak sidik jari spektral dari setiap piksel gambar.

Dengan keberadaan otak buatan di luar angkasa, satelit tidak perlu lagi mengirimkan gambar berukuran raksasa ke stasiun penerima di bumi. Pengurangan beban transmisi ini secara signifikan memangkas waktu pengolahan informasi dari hitungan jam menjadi hitungan menit. Melansir dari pemaparan Peng Feiyu selaku insinyur algoritma AI satelit, hasil pemrosesan citra durasi 15 detik dapat diselesaikan hanya dalam waktu 10 hingga 15 menit di orbit.
Profesor Wang Mi dari Universitas Wuhan menyatakan bahwa kedua satelit ini menjadi tolok ukur baru bagi satelit hiperspektral global. Pada siang hari, satelit bertugas melakukan pencitraan hiperspektral daratan untuk memantau sumber daya alam secara rinci. Sementara pada malam hari, instrumen satelit dapat menangkap dinamika pencahayaan kota yang berkaitan erat dengan aktivitas manusia.
Integrasi teknologi pencitraan malam dan siang ini memberikan gambaran data spasial yang sangat komprehensif bagi para peneliti. Keandalan instrumen di orbit juga dipadukan dengan kesiapan sistem komunikasi antariksa untuk menghadapi berbagai tantangan operasional. Hal ini menjadikan satelit berbasis kecerdasan buatan sebagai aset strategis dalam pemetaan wilayah secara real-time.
Penerapan Strategis dalam Sektor Global dan Pertanian
Kedua satelit AI China baru ini akan bekerja secara sinergis bersama satelit Oriental Smart Eye Gaofen-1 yang sudah mengorbit sebelumnya. Kolaborasi antar-satelit ini dirancang untuk mendukung berbagai sektor vital seperti pertanian, kehutanan, perlindungan lingkungan, pemantauan laut, dan eksplorasi mineral. Dalam manajemen bencana alam, satelit pintar ini sanggup memberikan peringatan dini dan panduan keputusan hanya dalam hitungan menit.

Keunggulan operasional ini juga diimplementasikan dalam bentuk kerja sama internasional bersama beberapa negara mitra China. Satelit 01 menjadi bagian dari proyek kerja sama antariksa antara China dan Indonesia untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Melansir dari pengembang satelit, wahana ini bertugas memantau pertumbuhan tanaman pangan secara akurat serta menilai risiko bencana pertanian di Indonesia.
Sementara itu, Satelit 02 diterjunkan dalam proyek kemitraan antara China dan Uzbekistan untuk mendukung sektor agrikultur di negara Asia Tengah tersebut. Satelit ini difokuskan untuk melakukan pemantauan siklus penuh pada budidaya tanaman kapas mulai dari masa penyemaian hingga panen. Kerjasama ini membuktikan bahwa pemanfaatan teknologi komputasi antariksa mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan ekonomi global.












