MALANG, ZonaJatim – Kreativitas dan ketajaman literasi siswa SMK Negeri 1 Turen kembali membuahkan hasil membanggakan. Reyhan Ferdiansyah, siswa kelas XI Akuntansi 1, berhasil menyabet gelar Juara 2 dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Malang tahun 2026 untuk bidang Menulis Cerita Pendek (Cerpen).
Lomba yang berlangsung pada 20 April 2026 di SMA Taruna Nusantara, Kecamatan Pagak ini, menyuguhkan tantangan yang tidak biasa bagi para pesertanya. Reyhan harus beradu imajinasi dengan 42 peserta lain dari jenjang SMA/SMK se-Kabupaten Malang di bawah tekanan waktu dan aturan yang ketat.
Cerita Reyhan Ferdiansyah Jalani kompetisi Menulis Cerpen FLS3N Kabupaten Malang 2026
Mekanisme lomba FLS3N tahun ini menuntut konsentrasi tinggi. Para peserta diberikan waktu total empat jam untuk menyelesaikan karya mereka.
Dua jam pertama digunakan untuk menyusun outlining atau kerangka cerita, mulai dari premis, tokoh, hingga alur di atas kertas folio. Dua jam berikutnya adalah tahap drafting atau penulisan utuh di laptop.
“Teknisnya lumayan menantang, karena di sana kita dikasih waktu empat jam. Saat drafting pun tak kalah menantang, di mana kita menukar laptop antara teman sebelah kiri, kanan, depan, atau belakang untuk menghindari kecurangan,” kenang Reyhan saat menceritakan pengalaman lombanya.
Meski teknis penilaian tidak diketahui secara mendalam, Reyhan meyakini bahwa aspek kreativitas dalam mengolah cerita dan orisinalitas menjadi poin utama yang dilirik dewan juri.
“Kambing Itu Mati Syahid, Tapi Tidak Masuk Surga”
Dalam kompetisi tersebut, Reyhan mengangkat tema “Jejak Budaya” dengan judul yang cukup provokatif dan menarik perhatian: “Kambing Itu Mati Syahid, Tapi Tidak Masuk Surga”.
Cerpen ini mengisahkan tentang kegelisahan seorang cucu yang mulai kehilangan akar budayanya, terutama bahasa daerah, karena jarang pulang ke kampung halaman. Namun, kepulangannya membawa sebuah penemuan berharga bahwa sang kakek masih setia menyimpan ingatan dan tutur leluhur Jawa dengan sangat rapi.
Bagi Reyhan, cerpen adalah medium terbaik untuk berekspresi. “Saya suka cerpen karena medium yang paling mudah digunakan untuk menuangkan pikiran. Cerpen itu bisa dibaca sekali duduk, konfliknya fokus pada satu masalah, dan kita masih bisa mengambil amanat di dalamnya,” ujar remaja yang juga menyukai penulisan karya ilmiah bidang sosial-humaniora ini.
Perjuangan Reyhan Ferdiansyah Merantau dari Ngantang ke Turen
Dibalik prestasinya yang gemilang, ada kisah perjuangan kemandirian yang luar biasa. Reyhan sebenarnya berasal dari Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang. Jarak dari rumahnya ke SMKN 1 Turen mencapai 72 kilometer. Demi menuntut ilmu, ia memilih merantau, tinggal di rumah kos dekat sekolah, dan berjalan kaki setiap hari menuju kelas.
“Alasan saya sekolah di SMKN 1 Turen adalah ingin hidup mandiri dan merantau. Selain itu, sekolah ini memang menjadi wishlist saya,” ungkap anak dari orang tua yang berprofesi sebagai petani dan peternak ini.
Dukungan penuh dari orang tua dan pihak sekolah menjadi bahan bakar utama bagi Reyhan. “Orang tua sangat mendukung, beliau alhamdulillah bangga anaknya terjun ke dunia kepenulisan. Pihak sekolah pun benar-benar memfasilitasi kami, mulai dari bimbingan intensif selama satu minggu sebelum lomba, transportasi, hingga konsumsi,” tambahnya.
Deretan Prestasi Reyhan Ferdiansyah dan Cita-Cita Masuk Jurusan Hukum
Prestasi di FLS3N ini bukanlah yang pertama bagi Reyhan. Sejak aktif menulis pada Oktober 2024, ia telah melahirkan sekitar 20 judul cerpen yang dipublikasikan di berbagai media seperti Kompasiana, Ngewiyak, dan Koran Rakyat.
Pada November 2025 lalu, Reyhan pun berhasil meraih Juara 3 Nasional dalam Lomba Cerpen 2025 yang diselenggarakan oleh Ikatan Duta Bahasa Sumatera Utara bekerja sama dengan Balai Bahasa Sumatera Utara.
Cerpen inspiratifnya yang berjudul “Ketika Hutan Simalungun Berbahasa Blockchain” berhasil menjadi salah satu dari tiga karya terbaik dari 2.371 peserta dari seluruh Indonesia.

Sebelumnya, ia juga pernah meraih Juara 1 Nasional di ajang Nyalanesia 2025 lewat tulisan Surat Refleksi Kurikulum Merdeka, serta meraih juara di kompetisi bergengsi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Aktif di organisasi Rohis, Al Banjari, OSIS, serta Klub Literasi Sekolah, Reyhan membuktikan bahwa kesibukan organisasi bukan penghalang untuk berprestasi.
Menatap masa depan, siswa yang dikenal gigih ini memiliki impian yang linier dengan ketajamannya dalam berlogika dan merangkai kata.
“Cita-cita saya setelah ini adalah kuliah, saya ingin mengambil jurusan S1 Hukum,” pungkasnya optimis.
Pihak SMKN 1 Turen pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian ini. Prestasi Reyhan diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa-siswi lainnya untuk terus berkarya, menekuni potensi diri, dan tidak takut untuk bermimpi tinggi meskipun harus jauh dari rumah.











